BTemplates.com

Selasa, 06 September 2016

Laporan Praktikum Bakteri Tahan Asam

BAKTERI TAHAN ASAM



    Disusun oleh :
Annisa Fildzah Defanty      (I1A015001)
Missi Suci                             (I1A015038)
Hanawindra S                      (I1A015051)
Ayu Pangesti                        (I1A015071)
Nur Fauzan Azhima           (I1A015093)
M. Fajri Adhianto               (I1A015107)
Fita Aulia Ningtyas             (I1A015111)
La Re Nande Sangraena    (I1A015123)

Kelompok                 : 1
Rombongan             : II
Assisten                     : Febyana Noor Fadlilah
                                    Niken Mawari Pangestika




LAPORAN PRAKTIKUM MIKROBIOLOGI



KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI, DAN PENDIDIKAN TINGGI
FAKULTAS ILMU-ILMU KESEHATAN
JURUSAN KESEHATAN MASYARAKAT
UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
PURWOKERTO
2016


BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Tuberkulosis (TB) merupakan salah satu penyakit yang telah lama dikenal dan sampai saat ini masih menjadi penyebab utama kematian di dunia. Prevalensi TB di Indonesia dan negara-negara sedang berkembang lainnya cukup tinggi. Pada tahun 2006, kasus baru di Indonesia berjumlah >600.000 dan sebagian besar diderita oleh masyarakat yang berada dalam usia produktif (15–55 tahun). Angka kematian karena infeksi TB berjumlah sekitar 300 orang per hari dan terjadi >100.000 kematian per tahun. Hal tersebut merupakan tantangan bagi semua pihak untuk terus berupaya mengendalikan infeksi ini.Salah satu upaya penting untuk menekan penularan TB di masyarakat adalah dengan melakukan diagnosis dini yang definitif (Saptawati, 2004).
WHO (World Health Organization) menyatakan, bahwa sekitar 1,9 milyar manusia, atau sepertiga penduduk dunia, telah terinfeksi tuberkulosis. Setiap detik ada satu orang yang terinfeksi tuberkulosis di dunia ini, dan dalam dekade mendatang tidak kurang dari 300 juta orang akan terinfeksi oleh tuberkulosis. Setiap tahun, ada 4 juta penderita baru tuberkulosis paru menular di dunia, ditambah lagi dengan penderita yang tidak menular. Artinya, setiap tahun di dunia ini terdapat sekitar 8 juta penderita tuberkulosis paru, dan sekitar 3 juta orang yang meninggal (Jasaputra, 2005).
Tuberkulosis adalah penyakit yang menular akut maupun kronis yang terutama menyerang paru, yang disebabkan oleh bakteri tahan asam (BTA) yang bersifat batang gram positif (Mycobacteriumtuberculosis). Etiologi TB paru ialah M. Tuberculosis yang berbentuk batang. Kuman akan tumbuh optimal pada suhu sekitar 37C dengan pH optimal 6,4-7. Sebagian besar kuman terdiri atas asam lemak yang menyebabkan kuman lebih tahan asam dan lebih kuat terhadap gangguan kimia dan fisik (Buntuan, 2014).
Tuberkulosis telah mengklaim korban yang banyak dikenal sejarah manusia. Itu mencapai proporsi epidemi di Eropa dan Amerika Utara selama berabad-abad 18 dan 19, mendapatkan julukan, "Kapten dari kematian orang-orang." Langkah-langkah kesehatan masyarakat untuk memerangi penyebaran tuberkulosis muncul setelah penemuan penyebabnya bakteri (Daniel, 2006).
Pemeriksaan mikroskopis BTA dari sputum memegang peran dalam mendiagnosis awal dan pemantauan pengobatan tuberkulosis paru. Rangkaian kegiatan yang baik diperlukan untuk mendapatkan hasil yang akurat, mulai dari cara pengumpulan sputum, pemilihan bahan sputum yang akan diperiksa dan pengolahan sediaan dibawah mikroskop. Teknik pewarnaan yang digunakan adalah Ziehl Neelsen yang dapat mendeteksi BTA dengan menggunakan mikroskop (Susanti et al., 2013).

B.     Tujuan
Mahasiswa mampu mengetahui teknik analisis bakteri Mycobacterium sp.














BAB II
MATERI DAN METODE
A.    Materi
Alat yang digunakan pada praktikum ini adalah pembakar spirtus, object glass, pinset, tusuk sate, dan pipet ukur. Bahan yang digunakan adalah karbol fuchsin, alkohol asam 3%, larutan Metylen Blue, dan akuades.
B.     Metode 
Interpretasi :
·         Negatif  : tidak dijumpai adanya BTA/100 LP.
·         Positif    : ditemukan 1-9 BTA/100 LP.
·         Positif 1 : ditemukan 10-90 BTA/100 LP.
·         Positif 2 : ditemukan 1-9 BTA/1 LP.
·         Positif 3 : ditemukan lebih dari 10 BTA/LP.
BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN
A.       Hasil
Gambar 1. Hasil pengamatan skutum.
Dari hasil yang didapat dari pengamatan di bawah mikroskop seperti yang terlihat pada gambar 1 terbukti bahwa bakteri dari skutum tersebut hasilnya negative. Tidak terdapat bakteri Mycobacterium tuberculose pada sample dahak tersebut.
B.       Pembahasan
Bakteri tahan asam (BTA) merupakan bakteri yang memiliki ciri-ciri yaitu berantai karbon (C) yang panjangnya 8 - 95 dan memiliki dinding sel yang tebal yang terdiri dari lapisan lilin dan asam lemak mikolat, lipid yang ada bisa mencapai 60% dari berat dinding sel. Bakteri yang termasuk BTA antara lain Mycobacterium tuberculose, Mycobacterium bovis, Mycobacterium leprae, Mycobacterium avium, Nocandia meningitidis, dan Nocandia gonorrhoeae. Mycobacterium tuberculose adalah bakteri patogen yang dapat menyebabkan penyakit tuberculosis, dan bersifat tahan asam sehingga digolongkan sebagai bakteri tahan asam (BTA). Penularan Mycobacterium tuberculose terjadi melalui jalan pernafasan (Syahrurachman, 1994).
Bakteri ini membutuhkan bahan tambahan makanan seperti darah egg yolk, serum dan sel yang tebal yang terdiri dari asam lemak mivolet untuk pertumbuhannya. Mycobacterium tuberculose merupakan bakteri gram positif (+), batang sedikit bengkok, panjang atau pendek, tidak berspora, tidak berkapsul, pertumbuhan sangat lambat 2 - 8 minggu, suhu optimal 37 - 38oC. Mycobacterium tahan terhadap asam dan alkali dibanding dengan kuman lain sehingga apabila bahan spesimen mengandung kuman lain dapat dibunuh dengan mudah sehingga spesimen menjadi lebih murni (Staff pengajar FKUI, 1994).
Bakteri tahan asam merupakan bakteri yang kandungan lemaknya sangat tebal sehingga tidak bisa diwarnai dengan reaksi pewarnaan biasa, tetapi harus dengan pewarnaan tahan asam. Kelompok bakteri ini disebut bakteri tahan asam (BTA) karena dapat mempertahankan zat warna pertama sewaktu dicuci dengan larutan pemucat. Golongan bakteri ini biasanya bersifat patogen pada manusia contohnya adalah Mycobacterium tuberculose. Bakteri Mycobacterium tuberculose dapat diisolasi dari sputum penderita TBC. Reaksi hasil pewarnaannya jika positif terdapat bakteri TBC berwarna merah. Selain menyerang manusia juga menyerang hewan seperti marmut, dan kera. Penularannya dapat melalui udara yang masuk ke saluran pernafasan (Pelczar dan Chan, 1988).
Mikrobakterium berbentuk basil, merupakan bakteri aerobic yang tidak membentuk spora. Meskipun mereka tidak terwarnai dengan baik, segera setelah diwarnai mereka mempertahankan dekolorisasi oleh asam atau alkohol, oleh karena itu dinamakan basil “cepat asam”. Mycobacterium tuberculose menyebabkan tuberkulosis dan merupakan patogen manusia yang sangat penting (Brooks, 2005).
Jaringan, basil tuberkel adalah bakteri batang lurus dengan ukuran sekitar 0,4 – 3 mm. Pada media buatan, bentuk kokoid dan filamentous tampak bervariasi dari satu spesies ke spesies lain. Micobacteria tidak dapat dikelompokan sebagai Gram positif. Segera setelah diwarnai dengan pencelup dasar mereka tidak dapat didekolorisasi oleh alkohol, tanpa memperhatikan pengobatan dengan iodin. Pewarnaan teknik Ziehl Nelson digunakan untuk identifikasi bakteri cepat asam. Dengan pengulasan sputum atau bagian jaringan, micobacteria dapat ditunjukan dengan fluorescen kuning-oranye setelah pewarnaan dengan fluorokrom (yaitu auramine, fodamine) (Brooks, 2005).
Tuberkulosis merupakan penyakit infeksi yang menyerang paru dan organ lain dalam tubuh yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculose. Kuman ini berbentuk batang, tahan terhadap asam pada pewarnaan oleh karena itu disebut pula sebagai Basil Tahan Asam (BTA). Selain itu, kuman ini hidup di daerah yng memiliki kandungan oksigen tinggi, sehingga tempat utamanya adalah paru (Frida, 2006).
Pengambilan sputum (sekret paru-paru atau ludah) untuk analisis tuberculose dapat dilakukan setiap saat dikenal ada 3 jenis sputum:
a.         Sputum pagi                     : sputum yang dikeluarkan oleh penderita pada
saat bangun pagi.
b.         Spot sputum                     : sputum yang dikeluarkan pada saat itu.
c.         Collection sputum            : sputum yang keluar dan ditampung selama 24
jam.
Sputum yang telah diperoleh dapat disimpan dalam lemari es selama satu minggu. Mycobacterium tuberculose terdapat pada manusia yang mengidap penyakit TBC dan penularannya terjadi melalui jalan pernafasan, tetapi spesies Mycobacterium bovis biasanya terdapat pada lembu dan dapat ditemukan pula pada manusia di usus (Syahrurachman, 1994).
Tuberkulosis adalah penyakit menular langsung yang disebabkan oleh kuman TB (Mycobacterium tuberculose). Penularan penyakit ini melalui perantara dahak penderita yang mengandung basil tuberculose paru. Butir-butir air ludah beterbangan di udara dan terhisap oleh orang yang sehat ketika penderita batuk dan masuk kedalam parunya yang kemudian menyebabkan penyakit tuberculose paru (Syafri et al., 2015).
Tuberkulosis (TB) masih tetap menjadi penyebab infeksi utama morbiditas dan mortalitas di seluruh dunia, terutama di negara-negara berkembang. TB yang resistan terhadap obat adalah menjadi peningkatan masalah kesehatan masyarakat dalam beberapa tahun terakhir dan merupakan ancaman potensial terhadap pengendalian penyakit (Naomi, 1999).
Tuberkulosis masih merupakan masalah kesehatan utama di Negara sedang berkembang, termasuk Indonesia, di mana sebagian besar penduduknya hidup di pedesaan dengan derajat kesehatan yang masih rendah. Keadaan ini tercermin pada prevalensi Tuberkulosis dengan BTA (+) yang masih cukup tinggi yaitu 0,3%, berarti di antara 1000 orang penduduk Indonesia dapat dijumpai 3 orang penderita Tuberkulosis paru yang masih potensial menular. Tuberkulosis paru merupakan penyebab kematian peringkat keempat di Indonesia setelah penyakit infeksi saluran nafas bawah, diare dan penyakit jantung koroner (Handoko, 1984).
Penemuan Bakteri Tahan Asam (BTA) dalam sputum, mempunyai arti yang sangat penting dalam menegakkan diagnosis Tuberkulosis paru, namun kadang-kadang tidak mudah untuk menemukan BTA tersebut. BTA baru dapat ditemukan dalam sputum, bila bronkus sudah terlibat, sehingga sekret yang dikeluarkan melalui bronkus akan mengandung BTA (Rasmin, 1987).
Pemeriksaan mikroskopik langsung dengan BTA (-), bukan berarti tidak ditemukan Mycobacterium tuberculose sebagai penyebab, dalam hal penting sekali peranan hasil biakan kuman. Faktor-faktor yang dapat menyebabkan basil bakteriologi negatif adalah :
·           Belum terlibatnya bronkus dalam proses penyakit, terutama pada awals akit,
·           Terlalu sedikitnya kuman di dalam sputum akibat dari cara pengambilan bahan yang tidak adekuat,
·           Cara pemeriksaan bahan yang tidak adekuat,
·           Pengaruh pengobatan dengan OAT, terutama rifampisin.
Teknik pewarnaan Ziehl-Neelsen, yaitu dengan menggunakan zat warna carbol fuchsin 0,3 %, asam alkohol 3 %, dan methylen blue 0,3%. Pada pemberian warna pertama, yaitu carbol fuchsin, BTA bersifat mempertahankannya. Carbol fuchsinmerupakan fuksin basa yang dilarutkandalam larutan fenol 5 %. Larutan ini memberikan warna merah pada sediaan dahak. Fenol digunakan sebagai pelarut untuk membantu pemasukan zat warna ke dalam sel bakteri sewaktu proses pemanasan. Fungsi pemanasan untuk melebarkan pori-pori lemak BTA sehingga carbol fuchsin dapat masuk sewaktu BTA dicuci dengan larutan pemucat, yaitu asam alkohol, maka zat warna pertama tidak mudah dilunturkan. Bakteri kemudian dicuci dengan air mengalir untuk menutup pori-pori dan menghentikan pemucatan. BTA akan terlihat berwarna merah, sedangkan bakteri yang tidak tahan asam akan melarutkan carbol fuchsin dengan cepat sehingga sel bakteri tidak berwarna. Setelah penambahan zat warna kedua yaitu methylen blue, bakteri tidak tahanasam akan berwarna biru (Lay, 1994).
Pewarnaan Ziehl Nelson (ZN) digunakan untuk mengidentifikasi infeksi yang disebabkan oleh Bakteri Tahan Asam (BTA). Contohnya Mycobacterium tuberculose, Mycobacterium leprae, Mycobacterium atypital seperti Mycobacterium avium intraselular atau Mycobacterium avium complex yang tumbuh padaC yang menyerang system imun (Fauziah, 2008).
Mikroskopik dengan pewarnaan Ziehl-Neelsen (ZN) dapat dilakukan identifikasi Bakteri Tahan Asam (BTA), dimana bakteri akan terbagi menjadi dua golongan:
1.       Bakteri Tahan Asam (BTA), adalah bakteri yang pada pengecatan Ziehl-Neelsen (ZN) tetap mengikat warna pertama, tidak luntur oleh asam dan alkohol, sehingga tidak mampu mengikat warna kedua. Dibawah mikroskop tampak bakteri berwarna merah dengan warna dasar biru muda.
2.    Bakteri tidak tahan asam, adalah bakteri yang pada pewarnaan Ziehl-Neelsen (ZN), warna pertama, yang diberikan dilunturkan oleh asam dan alkohol, sehingga bakteri akan mengikat warna kedua. Dibawah miskroskop tampak bakteri berwarna biru tua dengan  warna dasar biru yang lebih muda.
Sifat tahan asam pada bakteri tahan asam disebabkan karena dinding selnya terdiri atas peptidoglikan, dan lipid (50 % tersusun atas asam mikolat). Asam mikolat merupakan asam lemak rantai panjang yang terdiri atas 34-90 karbon (Fauziah, 2008).
Teknik pewarnaan Ziehl-Neelsen (ZN) setelah sputum dioleskan melingkar pada gelas objek difiksasi dahulu. Fiksasi di atas lampu spiritus. Gunanya untuk membuka pori-pori bakteri agar mudah diwarnai. Kalbol fuchshin diteteskan di atas sputum tadi dan dibakar di atas nyala api pembakar spiritus. Kalbol fuchshin digunakan untuk mewarnai sel Bakteri Tahan Asam (BTA) dan dibakar agar kalbol fuchshin mudah meresap. Gelas obyek dicuci kering anginkan dan ditetesi dengan 3% alkohol asam. 3% alkohol asam digunakan untuk memucatkan atau memudarkan warna merah selain di Bakteri Tahan Asam (BTA). Preparat dicuci kering anginkan dan ditetesi dengan methylen blue. Methylen blue digunakan untuk mewarnai backgroundnya. Penilaian Bakteri Tahan Asam (BTA) dengan metode pewarnaan Ziehl-Neelsen (ZN) menurut IUPAC :
·     BTA negatif : Apabila dalam 100 LP atau selama 15 menit pengamatan tidak dijumpai adanya BTA.
·    BTA positif : Apabila dalam pengamatan dijumpai BTA. Untuk BTA positif, apabila dibuat sediaan langsung dan diwarnai dengan ZN maka dapat dilakukan penilaian sebagai berikut :
v  Negatif   : tidak dijumpai adanya BTA.
v  Positif     : ditemukan 1-9 BTA / 100 LP.
v  Positif 1  : ditemukan 10-90 BTA / 100 LP.
v  Positif 2  : ditemukan 1-9 BTA / 1 LP.
v  Positif 3  : ditemukan lebih dari 10 BTA / 1 LP.

Cara Penularan TB Paru
TB disebabkan oleh M. tuberculose. Orang-orang yang memiliki penyakit TBC di paru-paru mereka dapat melepaskan partikel-partikel kecil yang mengandung M. tuberculose ke udara melalui batuk. Partikel-partikel ini disebut droplet nuklei. Partikel tersebut tidak dapat terlihat dengan mata telanjang. Droplet nuklei dapat tetap di udara di ruang udara selama berjam-jam, sampai partikel tersebut terbuang melalui ventilasi alami atau mekanis (Naomi et al., 1999).
Untuk penyebarannya harus ada sumber yaitu orang dengan penyakit TBC yang memproduksi M. tuberculose, dan orang yang terkena atau menghirup droplet nuklei yang mengandung bakteri. Meskipun TB biasanya tidak ditularkan melalui kontak singkat, siapa saja yang menghirup udara yang sama dengan orang dengan penyakit TBC paru-paru dalam tahap menular beresiko tertular. Seseorang yang menghirup salah satu atau lebih dari droplet nuklei dapat terinfeksi M. tuberculose (Naomi et al., 1999).
Hasil vs Pustaka
                        Dari hasil pengamatan terhadap bakteri Mycobacterium tuberculose yang ada pada sample sputum. Diperoleh data bahwa sputum yang diamati tidak ditemukan adanya bakteri Mycobacterium tuberculose atau negatif. Sputum yang telah dilakukan pewarnaan dengan metode Ziehl Nelson diamati di bawah mikroskop dan tidak dijumpai bakteri yang berwarna merah dengan latar belakang biru yang merupakan interpretasi positif tuberkulosis.
Menurut B. W. Lay (1994), teknik pewarnaan Ziehl-Neelsen, yaitu dengan menggunakan zat warna carbol fuchsin 0,3 %, asam alkohol 3 %, dan methylen blue 0,3%. Pada pemberian warna pertama, yaitu carbol fuchsin, BTA bersifat mempertahankannya. Carbol fuchsin merupakan fuksin basa yang dilarutkan dalam larutan fenol 5 %. Larutan ini memberikan warna merah pada sediaan sputum. Fenol digunakan sebagai pelarut untuk membantu pemasukan zat warna ke dalam sel bakteri sewaktu proses pemanasan. Fungsi pemanasan untuk melebarkan pori-pori lemak BTA sehingga carbol fuchsin dapat masuk sewaktu BTA dicuci dengan larutan pemucat, yaitu asam alkohol, maka zat warna pertama tidak mudah dilunturkan. Bakteri kemudian dicuci dengan air mengalir untuk menutup pori-pori dan menghentikan pemucatan. BTA akan terlihat berwarna merah, sedangkan bakteri yang tidak tahan asam akan melarutkan carbol fuchsin dengan cepat sehingga sel bakteri tidak berwarna. Setelah penambahan zat warna kedua yaitu methylen blue, bakteri tidak tahan asam akan berwarna biru.


















DAFTAR PUSTAKA
Brooks, et al. 2005. Mikrobiologi Kedokteran. Jakarta : Salemba Medika.
Buntuan, Velma. 2014. Gambaran Basil Tahan Asam (BTA) Positif Pada Penderita Diagnosa Klinis Tuberculose Paru di Rumah Sakit Islam Sityi Maryam Manado Periode Januari-Juni 2014.  2 (2) : 593.
Buntuan, Velma. 2014. Gambaran Basil Tahan Asam (BTA) PositifPada Penderita Diagnosa Klinis Tuberkulosis ParuDi Rumah Sakit Islam Sitti Maryam Manado Periode Januari 2014 s/d Juni 2014. Jurnal e-Biomedik (eBM), 2 (2) : 593-596.
Daniel, Thomas M. 2006. The History of Tuberculosis. Respiratory Medicine, 100 (11) : 1862–1870.
Fauziah, 2008. Praktikum Microbial Staining. www.fkugm.com, diakses tanggal 22 April 2016.
Fox, G.J. et al. 2012. Contact Investigation for tuberculose : A Systemic Review and Meta Analysis. European Respiratory Journal. 41 (2) : 140.
Frida, et al. 2006. Analisis Temuan Basil Tahan Asam Pada Sputum Secara Langsung dan Sediaan Konsentrasi pada Suspek Tuberculose. 12 (2) : 62-64.
Handoko T. 1984. Gambaran uji tuberkulin pads penduduk yang berdomisili di sekitar pabrik semen. Jakarta : FKUI.
Jasaputra, Diana K. 2005. Akurasi Deteksi Mycobacterium tuberculosisdengan Teknik PCR menggunakan “Primer X” dibandingkan dengan Pemeriksaan Mikroskopik (BTA) dan Kultur Sputum Penderita dengan Gejala Tuberkulosis Paru. JKM. 5 (1) : 7-14.
Lay, B. W. 1994.  Analisis Mikroba di Laboratorium. Jakarta : PT Raja Grafindo Persada.
Naomi Block, Dkk. 1999. Tuberculose Infection Control in The Era Of Expanding Hiv Care and Treatment. http://Www.Who.Int/Tb/Publications/2006/Tbhiv_Infectioncontrol_Addendum.Pdf. Diakses pada tanggal 4 Mei 2014.
Pelczar, M.J. Dan Chan E.C.S. 1988. Dasar-Dasar Mikrobiologi 2. Jakarta : UI Press.
Rasmin R. 1987. Diagnostik Dan Klasifikasi Tuberkulosis Dalam Simposium Pengobatan Mutakhir Tuberculose Paru. Jakarta : IDPI.
Saptawati, Leli. 2014. Evaluasi Metode Fast Plaque TB Untuk Mendeteksi Mycobacterium tuberculosis Pada Sputum Di Beberapa Unit Pelayanan Kesehatan Di Jakarta-Indonesia. Jurnal Tuberkulosis Indonesia. 8 (1) : 1-6.
Staf pengajar FKUI, 1994. Buku Ajar Mikrobiologi Kedokteran. Jakarta : Binawa Aksara.
Susanti, Diana., Constantien Kountul, dan Velma Buntuan. 2013. Pemeriksaan Basil Tahan Asam (BTA) Pada Sputum Penderita Batuk ≥ 2 Minggu Di Poliklinik Penyakit Dalam BLU RSUP. Prof. Dr. R.D Kandou Manado. Jurnal e-Clinic (eCl). 1 (1) : 2.
Syafri, Amalia Kartika., Giat Purwoatmojo., Sri Darnoto. 2015. Hubungan Kondisi Fisik Rumah Dengan Kejadian Tuberkulosis Paru Di Wilayah Kerja Puskesmas Ngemplak Boyolali. Surakarta : Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Surakarta.
Syahrurachman, dkk. 1994. Buku Ajar Mikrobiologi Kedokteran Edisi Revisi. Jakarta: UI Press.




0 komentar:

Posting Komentar