BAKTERI
TAHAN ASAM
Disusun oleh :
Annisa
Fildzah Defanty (I1A015001)
Missi
Suci (I1A015038)
Hanawindra
S (I1A015051)
Ayu
Pangesti (I1A015071)
Nur
Fauzan Azhima (I1A015093)
M.
Fajri Adhianto (I1A015107)
Fita
Aulia Ningtyas (I1A015111)
La
Re Nande Sangraena (I1A015123)
Kelompok : 1
Rombongan : II
Assisten : Febyana Noor Fadlilah
Niken Mawari Pangestika
LAPORAN
PRAKTIKUM MIKROBIOLOGI
KEMENTERIAN
RISET, TEKNOLOGI, DAN PENDIDIKAN TINGGI
FAKULTAS
ILMU-ILMU KESEHATAN
JURUSAN KESEHATAN
MASYARAKAT
UNIVERSITAS
JENDERAL SOEDIRMAN
PURWOKERTO
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Tuberkulosis (TB) merupakan salah satu
penyakit yang telah lama dikenal dan sampai saat ini masih menjadi penyebab
utama kematian di dunia. Prevalensi TB di Indonesia dan negara-negara sedang
berkembang lainnya cukup tinggi. Pada tahun 2006, kasus baru di Indonesia
berjumlah >600.000 dan sebagian besar diderita oleh masyarakat yang berada
dalam usia produktif (15–55 tahun). Angka kematian karena infeksi TB berjumlah
sekitar 300 orang per hari dan terjadi >100.000 kematian per tahun. Hal
tersebut merupakan tantangan bagi semua pihak untuk terus berupaya
mengendalikan infeksi ini.Salah satu upaya penting untuk menekan penularan TB
di masyarakat adalah dengan melakukan diagnosis dini yang definitif (Saptawati,
2004).
WHO (World Health Organization)
menyatakan, bahwa sekitar 1,9 milyar manusia, atau sepertiga penduduk dunia,
telah terinfeksi tuberkulosis. Setiap detik ada satu orang yang terinfeksi
tuberkulosis di dunia ini, dan dalam dekade mendatang tidak kurang dari 300
juta orang akan terinfeksi oleh tuberkulosis. Setiap tahun, ada 4 juta
penderita baru tuberkulosis paru menular di dunia, ditambah lagi dengan
penderita yang tidak menular. Artinya, setiap tahun di dunia ini terdapat
sekitar 8 juta penderita tuberkulosis paru, dan sekitar 3 juta orang yang
meninggal (Jasaputra, 2005).
Tuberkulosis adalah penyakit yang menular akut
maupun kronis yang terutama menyerang paru, yang disebabkan oleh bakteri tahan
asam (BTA) yang bersifat batang gram positif (Mycobacteriumtuberculosis).
Etiologi TB paru ialah M. Tuberculosis yang berbentuk
batang. Kuman akan tumbuh optimal pada suhu sekitar 37⁰C dengan pH optimal 6,4-7. Sebagian besar kuman terdiri atas
asam lemak yang menyebabkan kuman lebih tahan asam dan lebih kuat terhadap
gangguan kimia dan fisik (Buntuan, 2014).
Tuberkulosis telah mengklaim korban yang
banyak dikenal sejarah manusia. Itu mencapai proporsi epidemi di Eropa dan
Amerika Utara selama berabad-abad 18 dan 19, mendapatkan julukan, "Kapten
dari kematian orang-orang." Langkah-langkah kesehatan masyarakat untuk
memerangi penyebaran tuberkulosis muncul setelah penemuan penyebabnya bakteri
(Daniel, 2006).
Pemeriksaan
mikroskopis BTA dari sputum memegang peran dalam mendiagnosis awal dan
pemantauan pengobatan tuberkulosis paru. Rangkaian kegiatan yang baik
diperlukan untuk mendapatkan hasil yang akurat, mulai dari cara pengumpulan
sputum, pemilihan bahan sputum yang akan diperiksa dan pengolahan sediaan
dibawah mikroskop. Teknik pewarnaan yang digunakan adalah Ziehl Neelsen yang
dapat mendeteksi BTA dengan menggunakan mikroskop (Susanti et al., 2013).
B.
Tujuan
Mahasiswa mampu mengetahui teknik analisis bakteri Mycobacterium sp.
BAB II
MATERI DAN METODE
A.
Materi
Alat yang
digunakan pada praktikum ini adalah pembakar spirtus, object glass, pinset,
tusuk sate, dan pipet ukur. Bahan yang digunakan adalah karbol fuchsin, alkohol
asam 3%, larutan Metylen Blue, dan akuades.
B.
Metode
Interpretasi
:
·
Negatif :
tidak dijumpai adanya BTA/100 LP.
·
Positif :
ditemukan 1-9 BTA/100 LP.
·
Positif 1 : ditemukan 10-90 BTA/100 LP.
·
Positif 2 : ditemukan 1-9 BTA/1 LP.
·
Positif 3 : ditemukan lebih dari 10 BTA/LP.
BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN
HASIL DAN PEMBAHASAN
A.
Hasil

Gambar 1. Hasil pengamatan skutum.
Dari hasil yang
didapat dari pengamatan di bawah mikroskop seperti yang terlihat
pada gambar 1 terbukti bahwa
bakteri dari skutum tersebut hasilnya negative. Tidak terdapat
bakteri Mycobacterium tuberculose pada
sample dahak tersebut.
B.
Pembahasan
Bakteri tahan asam
(BTA) merupakan bakteri yang memiliki ciri-ciri yaitu berantai karbon (C) yang
panjangnya 8 - 95 dan memiliki dinding sel yang tebal yang terdiri dari lapisan
lilin dan asam lemak mikolat, lipid yang ada bisa mencapai 60% dari berat
dinding sel. Bakteri yang termasuk BTA antara lain Mycobacterium tuberculose, Mycobacterium bovis, Mycobacterium leprae,
Mycobacterium avium, Nocandia meningitidis, dan Nocandia gonorrhoeae.
Mycobacterium tuberculose adalah bakteri patogen yang dapat menyebabkan
penyakit tuberculosis, dan bersifat tahan asam sehingga digolongkan sebagai
bakteri tahan asam (BTA). Penularan Mycobacterium
tuberculose terjadi melalui jalan pernafasan (Syahrurachman, 1994).
Bakteri ini membutuhkan bahan tambahan makanan seperti darah egg yolk, serum dan sel yang tebal yang terdiri dari asam lemak mivolet untuk pertumbuhannya. Mycobacterium tuberculose merupakan bakteri gram positif (+), batang sedikit bengkok, panjang atau pendek, tidak berspora, tidak berkapsul, pertumbuhan sangat lambat 2 - 8 minggu, suhu optimal 37 - 38oC. Mycobacterium tahan terhadap asam dan alkali dibanding dengan kuman lain sehingga apabila bahan spesimen mengandung kuman lain dapat dibunuh dengan mudah sehingga spesimen menjadi lebih murni (Staff pengajar FKUI, 1994).
Bakteri tahan asam merupakan bakteri yang kandungan lemaknya sangat tebal sehingga tidak bisa diwarnai dengan reaksi pewarnaan biasa, tetapi harus dengan pewarnaan tahan asam. Kelompok bakteri ini disebut bakteri tahan asam (BTA) karena dapat mempertahankan zat warna pertama sewaktu dicuci dengan larutan pemucat. Golongan bakteri ini biasanya bersifat patogen pada manusia contohnya adalah Mycobacterium tuberculose. Bakteri Mycobacterium tuberculose dapat diisolasi dari sputum penderita TBC. Reaksi hasil pewarnaannya jika positif terdapat bakteri TBC berwarna merah. Selain menyerang manusia juga menyerang hewan seperti marmut, dan kera. Penularannya dapat melalui udara yang masuk ke saluran pernafasan (Pelczar dan Chan, 1988).
Mikrobakterium berbentuk basil, merupakan bakteri aerobic yang tidak membentuk spora. Meskipun mereka tidak terwarnai dengan baik, segera setelah diwarnai mereka mempertahankan dekolorisasi oleh asam atau alkohol, oleh karena itu dinamakan basil “cepat asam”. Mycobacterium tuberculose menyebabkan tuberkulosis dan merupakan patogen manusia yang sangat penting (Brooks, 2005).
Jaringan, basil tuberkel adalah bakteri batang lurus dengan ukuran sekitar 0,4 – 3 mm. Pada media buatan, bentuk kokoid dan filamentous tampak bervariasi dari satu spesies ke spesies lain. Micobacteria tidak dapat dikelompokan sebagai Gram positif. Segera setelah diwarnai dengan pencelup dasar mereka tidak dapat didekolorisasi oleh alkohol, tanpa memperhatikan pengobatan dengan iodin. Pewarnaan teknik Ziehl Nelson digunakan untuk identifikasi bakteri cepat asam. Dengan pengulasan sputum atau bagian jaringan, micobacteria dapat ditunjukan dengan fluorescen kuning-oranye setelah pewarnaan dengan fluorokrom (yaitu auramine, fodamine) (Brooks, 2005).
Tuberkulosis merupakan penyakit infeksi yang menyerang paru dan organ lain dalam tubuh yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculose. Kuman ini berbentuk batang, tahan terhadap asam pada pewarnaan oleh karena itu disebut pula sebagai Basil Tahan Asam (BTA). Selain itu, kuman ini hidup di daerah yng memiliki kandungan oksigen tinggi, sehingga tempat utamanya adalah paru (Frida, 2006).
Pengambilan sputum (sekret paru-paru atau ludah) untuk analisis tuberculose dapat dilakukan setiap saat dikenal ada 3 jenis sputum:
Bakteri ini membutuhkan bahan tambahan makanan seperti darah egg yolk, serum dan sel yang tebal yang terdiri dari asam lemak mivolet untuk pertumbuhannya. Mycobacterium tuberculose merupakan bakteri gram positif (+), batang sedikit bengkok, panjang atau pendek, tidak berspora, tidak berkapsul, pertumbuhan sangat lambat 2 - 8 minggu, suhu optimal 37 - 38oC. Mycobacterium tahan terhadap asam dan alkali dibanding dengan kuman lain sehingga apabila bahan spesimen mengandung kuman lain dapat dibunuh dengan mudah sehingga spesimen menjadi lebih murni (Staff pengajar FKUI, 1994).
Bakteri tahan asam merupakan bakteri yang kandungan lemaknya sangat tebal sehingga tidak bisa diwarnai dengan reaksi pewarnaan biasa, tetapi harus dengan pewarnaan tahan asam. Kelompok bakteri ini disebut bakteri tahan asam (BTA) karena dapat mempertahankan zat warna pertama sewaktu dicuci dengan larutan pemucat. Golongan bakteri ini biasanya bersifat patogen pada manusia contohnya adalah Mycobacterium tuberculose. Bakteri Mycobacterium tuberculose dapat diisolasi dari sputum penderita TBC. Reaksi hasil pewarnaannya jika positif terdapat bakteri TBC berwarna merah. Selain menyerang manusia juga menyerang hewan seperti marmut, dan kera. Penularannya dapat melalui udara yang masuk ke saluran pernafasan (Pelczar dan Chan, 1988).
Mikrobakterium berbentuk basil, merupakan bakteri aerobic yang tidak membentuk spora. Meskipun mereka tidak terwarnai dengan baik, segera setelah diwarnai mereka mempertahankan dekolorisasi oleh asam atau alkohol, oleh karena itu dinamakan basil “cepat asam”. Mycobacterium tuberculose menyebabkan tuberkulosis dan merupakan patogen manusia yang sangat penting (Brooks, 2005).
Jaringan, basil tuberkel adalah bakteri batang lurus dengan ukuran sekitar 0,4 – 3 mm. Pada media buatan, bentuk kokoid dan filamentous tampak bervariasi dari satu spesies ke spesies lain. Micobacteria tidak dapat dikelompokan sebagai Gram positif. Segera setelah diwarnai dengan pencelup dasar mereka tidak dapat didekolorisasi oleh alkohol, tanpa memperhatikan pengobatan dengan iodin. Pewarnaan teknik Ziehl Nelson digunakan untuk identifikasi bakteri cepat asam. Dengan pengulasan sputum atau bagian jaringan, micobacteria dapat ditunjukan dengan fluorescen kuning-oranye setelah pewarnaan dengan fluorokrom (yaitu auramine, fodamine) (Brooks, 2005).
Tuberkulosis merupakan penyakit infeksi yang menyerang paru dan organ lain dalam tubuh yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculose. Kuman ini berbentuk batang, tahan terhadap asam pada pewarnaan oleh karena itu disebut pula sebagai Basil Tahan Asam (BTA). Selain itu, kuman ini hidup di daerah yng memiliki kandungan oksigen tinggi, sehingga tempat utamanya adalah paru (Frida, 2006).
Pengambilan sputum (sekret paru-paru atau ludah) untuk analisis tuberculose dapat dilakukan setiap saat dikenal ada 3 jenis sputum:
a.
Sputum pagi : sputum
yang dikeluarkan oleh penderita pada
saat bangun pagi.
b.
Spot sputum :
sputum yang dikeluarkan pada saat itu.
c.
Collection sputum : sputum
yang keluar dan ditampung selama 24
jam.
Sputum yang telah diperoleh dapat disimpan dalam lemari es selama satu
minggu. Mycobacterium tuberculose
terdapat pada manusia yang mengidap penyakit TBC dan penularannya terjadi
melalui jalan pernafasan, tetapi spesies Mycobacterium bovis biasanya terdapat
pada lembu dan dapat ditemukan pula pada manusia di usus (Syahrurachman, 1994).
Tuberkulosis
adalah penyakit menular langsung yang disebabkan oleh kuman TB (Mycobacterium tuberculose). Penularan penyakit ini
melalui perantara dahak penderita yang mengandung basil tuberculose paru.
Butir-butir air ludah beterbangan di udara dan terhisap oleh orang yang sehat
ketika penderita batuk dan masuk kedalam parunya yang kemudian menyebabkan
penyakit tuberculose paru (Syafri et al., 2015).
Tuberkulosis
(TB) masih tetap menjadi penyebab infeksi utama morbiditas dan mortalitas di
seluruh dunia, terutama di negara-negara berkembang. TB yang resistan terhadap
obat adalah menjadi peningkatan masalah kesehatan masyarakat dalam beberapa
tahun terakhir dan merupakan ancaman potensial terhadap pengendalian penyakit (Naomi,
1999).
Tuberkulosis masih
merupakan masalah kesehatan utama di Negara sedang berkembang, termasuk
Indonesia, di mana sebagian besar penduduknya hidup di pedesaan dengan derajat
kesehatan yang masih rendah. Keadaan ini tercermin pada prevalensi Tuberkulosis dengan BTA
(+) yang masih cukup tinggi yaitu 0,3%, berarti di antara 1000 orang penduduk
Indonesia dapat dijumpai 3 orang penderita Tuberkulosis paru yang masih potensial menular. Tuberkulosis paru
merupakan penyebab kematian peringkat keempat di Indonesia setelah penyakit infeksi
saluran nafas bawah, diare dan penyakit jantung koroner (Handoko, 1984).
Penemuan Bakteri Tahan Asam (BTA) dalam
sputum, mempunyai arti yang sangat penting dalam menegakkan diagnosis Tuberkulosis paru, namun kadang-kadang tidak mudah
untuk menemukan BTA tersebut. BTA baru dapat ditemukan dalam sputum, bila
bronkus sudah terlibat, sehingga sekret yang dikeluarkan melalui bronkus akan
mengandung BTA (Rasmin, 1987).
Pemeriksaan
mikroskopik langsung dengan BTA (-), bukan berarti tidak ditemukan Mycobacterium
tuberculose sebagai penyebab, dalam hal penting sekali
peranan hasil biakan kuman. Faktor-faktor yang dapat menyebabkan basil bakteriologi
negatif adalah :
·
Belum terlibatnya bronkus dalam proses penyakit, terutama
pada awals akit,
·
Terlalu sedikitnya kuman di dalam sputum akibat dari cara pengambilan
bahan yang tidak adekuat,
·
Cara pemeriksaan bahan yang tidak adekuat,
·
Pengaruh pengobatan dengan OAT, terutama rifampisin.
Teknik pewarnaan
Ziehl-Neelsen, yaitu dengan menggunakan zat warna carbol fuchsin 0,3 %, asam
alkohol 3 %, dan methylen blue 0,3%.
Pada pemberian warna pertama, yaitu carbol
fuchsin, BTA bersifat mempertahankannya. Carbol fuchsinmerupakan fuksin
basa yang dilarutkandalam larutan fenol 5 %. Larutan ini memberikan warna merah
pada sediaan dahak. Fenol digunakan sebagai pelarut untuk membantu pemasukan
zat warna ke dalam sel bakteri sewaktu proses pemanasan. Fungsi pemanasan untuk
melebarkan pori-pori lemak BTA sehingga carbol
fuchsin dapat masuk sewaktu BTA dicuci dengan larutan pemucat, yaitu asam
alkohol, maka zat warna pertama tidak mudah dilunturkan. Bakteri kemudian
dicuci dengan air mengalir untuk menutup pori-pori dan menghentikan pemucatan.
BTA akan terlihat berwarna merah, sedangkan bakteri yang tidak tahan asam akan melarutkan
carbol fuchsin dengan cepat sehingga
sel bakteri tidak berwarna. Setelah penambahan zat warna kedua yaitu methylen blue, bakteri tidak tahanasam
akan berwarna biru (Lay, 1994).
Pewarnaan Ziehl Nelson (ZN) digunakan untuk
mengidentifikasi infeksi yang disebabkan oleh Bakteri Tahan Asam (BTA).
Contohnya Mycobacterium tuberculose, Mycobacterium leprae, Mycobacterium atypital
seperti Mycobacterium avium
intraselular atau Mycobacterium avium
complex yang tumbuh pada
C yang menyerang system imun (Fauziah, 2008).
Mikroskopik
dengan pewarnaan Ziehl-Neelsen (ZN) dapat dilakukan identifikasi Bakteri Tahan
Asam (BTA), dimana bakteri akan terbagi menjadi dua golongan:
1. Bakteri Tahan Asam (BTA), adalah bakteri yang pada pengecatan Ziehl-Neelsen
(ZN) tetap mengikat warna pertama, tidak luntur oleh asam dan alkohol, sehingga
tidak mampu mengikat warna kedua. Dibawah mikroskop tampak bakteri berwarna
merah dengan warna dasar biru muda.
2. Bakteri tidak tahan asam, adalah bakteri yang pada pewarnaan Ziehl-Neelsen
(ZN), warna pertama, yang diberikan dilunturkan oleh asam dan alkohol, sehingga
bakteri akan mengikat warna kedua. Dibawah miskroskop tampak bakteri berwarna
biru tua dengan warna dasar biru yang
lebih muda.
Sifat tahan asam pada bakteri tahan asam
disebabkan karena dinding selnya terdiri atas peptidoglikan, dan lipid (50 %
tersusun atas asam mikolat). Asam mikolat merupakan asam lemak rantai panjang
yang terdiri atas 34-90 karbon (Fauziah, 2008).
Teknik pewarnaan Ziehl-Neelsen (ZN)
setelah sputum dioleskan melingkar pada gelas objek difiksasi dahulu. Fiksasi
di atas lampu spiritus. Gunanya untuk membuka pori-pori bakteri agar mudah
diwarnai. Kalbol fuchshin diteteskan di atas sputum tadi dan dibakar di atas
nyala api pembakar spiritus. Kalbol fuchshin digunakan untuk mewarnai sel
Bakteri Tahan Asam (BTA) dan dibakar agar kalbol fuchshin mudah meresap. Gelas
obyek dicuci kering anginkan dan ditetesi dengan 3% alkohol asam. 3% alkohol
asam digunakan untuk memucatkan atau memudarkan warna merah selain di Bakteri
Tahan Asam (BTA). Preparat dicuci kering anginkan dan ditetesi dengan methylen blue. Methylen blue digunakan
untuk mewarnai backgroundnya. Penilaian
Bakteri Tahan Asam (BTA) dengan metode pewarnaan Ziehl-Neelsen (ZN) menurut IUPAC :
· BTA negatif : Apabila dalam 100 LP atau selama 15 menit
pengamatan tidak dijumpai adanya BTA.
· BTA positif : Apabila dalam pengamatan dijumpai BTA. Untuk
BTA positif, apabila dibuat sediaan langsung dan diwarnai dengan ZN maka dapat
dilakukan penilaian sebagai berikut :
v Negatif : tidak dijumpai adanya BTA.
v Positif : ditemukan 1-9 BTA / 100 LP.
v Positif 1 : ditemukan 10-90 BTA / 100 LP.
v Positif 2 : ditemukan 1-9 BTA / 1 LP.
v Positif 3 : ditemukan lebih dari 10 BTA / 1 LP.
Cara
Penularan TB Paru
TB disebabkan oleh M. tuberculose.
Orang-orang yang memiliki penyakit TBC di paru-paru mereka dapat melepaskan
partikel-partikel kecil yang mengandung M.
tuberculose ke udara melalui batuk. Partikel-partikel ini disebut droplet
nuklei. Partikel tersebut tidak dapat terlihat dengan mata telanjang. Droplet
nuklei dapat tetap di udara di ruang udara selama berjam-jam, sampai partikel
tersebut terbuang melalui ventilasi alami atau mekanis (Naomi et al., 1999).
Untuk penyebarannya harus ada sumber yaitu orang dengan
penyakit TBC yang memproduksi M. tuberculose,
dan orang yang terkena atau menghirup droplet nuklei yang mengandung bakteri.
Meskipun TB biasanya tidak ditularkan melalui kontak singkat, siapa saja yang
menghirup udara yang sama dengan orang dengan penyakit TBC paru-paru dalam
tahap menular beresiko tertular. Seseorang yang menghirup salah satu atau lebih
dari droplet nuklei dapat terinfeksi M. tuberculose
(Naomi et al., 1999).
Hasil vs Pustaka
Dari
hasil pengamatan terhadap bakteri Mycobacterium
tuberculose yang ada pada sample sputum. Diperoleh data bahwa sputum yang
diamati tidak ditemukan adanya bakteri Mycobacterium tuberculose atau negatif. Sputum yang telah
dilakukan pewarnaan dengan metode Ziehl Nelson diamati di bawah mikroskop dan
tidak dijumpai bakteri yang berwarna merah dengan latar belakang biru yang
merupakan interpretasi positif tuberkulosis.
Menurut B. W. Lay (1994), teknik pewarnaan Ziehl-Neelsen,
yaitu dengan menggunakan zat warna carbol
fuchsin 0,3 %, asam alkohol 3 %, dan methylen blue 0,3%. Pada pemberian warna pertama,
yaitu carbol fuchsin, BTA
bersifat mempertahankannya. Carbol
fuchsin merupakan fuksin basa
yang dilarutkan dalam larutan fenol 5 %. Larutan
ini memberikan warna merah pada sediaan sputum. Fenol digunakan sebagai pelarut untuk
membantu pemasukan zat warna ke dalam sel bakteri sewaktu proses pemanasan.
Fungsi pemanasan untuk melebarkan pori-pori lemak BTA sehingga carbol fuchsin dapat masuk sewaktu BTA dicuci dengan
larutan pemucat, yaitu asam alkohol, maka zat warna pertama tidak mudah
dilunturkan. Bakteri kemudian dicuci dengan air mengalir untuk menutup
pori-pori dan menghentikan pemucatan. BTA akan terlihat berwarna merah,
sedangkan bakteri yang tidak tahan asam akan melarutkan carbol fuchsin dengan cepat sehingga sel bakteri
tidak berwarna. Setelah penambahan zat warna kedua yaitu methylen blue, bakteri
tidak tahan asam akan berwarna biru.
DAFTAR
PUSTAKA
Brooks, et al. 2005. Mikrobiologi Kedokteran. Jakarta : Salemba Medika.
Buntuan,
Velma. 2014. Gambaran Basil Tahan Asam
(BTA) Positif Pada Penderita Diagnosa Klinis Tuberculose Paru di Rumah Sakit
Islam Sityi Maryam Manado Periode Januari-Juni 2014. 2 (2) : 593.
Buntuan, Velma. 2014. Gambaran
Basil Tahan Asam (BTA) PositifPada Penderita Diagnosa Klinis Tuberkulosis
ParuDi Rumah Sakit Islam Sitti Maryam Manado Periode Januari 2014 s/d Juni 2014. Jurnal e-Biomedik (eBM), 2 (2) : 593-596.
Daniel, Thomas M. 2006. The History of Tuberculosis. Respiratory Medicine, 100 (11) : 1862–1870.
Fox, G.J. et al. 2012. Contact Investigation for tuberculose : A Systemic Review and Meta Analysis. European Respiratory Journal. 41
(2)
:
140.
Frida, et al.
2006. Analisis Temuan Basil Tahan Asam
Pada Sputum Secara Langsung dan Sediaan Konsentrasi pada Suspek Tuberculose.
12 (2) : 62-64.
Handoko T. 1984.
Gambaran uji tuberkulin pads penduduk
yang berdomisili di sekitar pabrik semen. Jakarta : FKUI.
Jasaputra, Diana K. 2005. Akurasi
Deteksi Mycobacterium
tuberculosisdengan Teknik PCR menggunakan “Primer X” dibandingkan dengan
Pemeriksaan Mikroskopik (BTA) dan Kultur Sputum Penderita dengan Gejala
Tuberkulosis Paru. JKM. 5 (1) : 7-14.
Lay, B. W. 1994. Analisis Mikroba di
Laboratorium. Jakarta : PT Raja Grafindo Persada.
Naomi Block,
Dkk. 1999. Tuberculose Infection Control
in The Era Of Expanding Hiv Care and Treatment. http://Www.Who.Int/Tb/Publications/2006/Tbhiv_Infectioncontrol_Addendum.Pdf.
Diakses pada tanggal 4 Mei 2014.
Pelczar,
M.J. Dan Chan E.C.S. 1988. Dasar-Dasar
Mikrobiologi 2. Jakarta : UI Press.
Rasmin R. 1987. Diagnostik Dan Klasifikasi Tuberkulosis Dalam Simposium Pengobatan Mutakhir
Tuberculose Paru. Jakarta : IDPI.
Saptawati, Leli. 2014. Evaluasi Metode Fast Plaque TB
Untuk Mendeteksi Mycobacterium tuberculosis Pada Sputum Di Beberapa Unit
Pelayanan Kesehatan Di Jakarta-Indonesia. Jurnal Tuberkulosis Indonesia. 8
(1) : 1-6.
Staf pengajar FKUI,
1994. Buku Ajar Mikrobiologi Kedokteran. Jakarta : Binawa Aksara.
Susanti, Diana., Constantien Kountul, dan Velma Buntuan. 2013. Pemeriksaan
Basil Tahan Asam (BTA) Pada Sputum Penderita Batuk ≥ 2 Minggu Di Poliklinik
Penyakit Dalam BLU RSUP. Prof. Dr. R.D Kandou Manado. Jurnal e-Clinic (eCl). 1 (1) : 2.
Syafri, Amalia Kartika., Giat Purwoatmojo., Sri
Darnoto. 2015. Hubungan Kondisi Fisik
Rumah Dengan Kejadian Tuberkulosis Paru Di Wilayah Kerja Puskesmas Ngemplak
Boyolali. Surakarta : Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah
Surakarta.
Syahrurachman, dkk.
1994. Buku Ajar Mikrobiologi Kedokteran Edisi Revisi. Jakarta: UI Press.







0 komentar:
Posting Komentar