PEMERIKSAAN TREMATODA
PADA KEONG MAS, KRACA DAN SUMPIL
Disusun Oleh :
Annisa
Fildzah Defanty
I1A015001
LAPORAN PRAKTIKUM PARASITOLOGI
KEMENTERIAN
RISET, TEKNOLOGI, DAN PENDIDIKAN TINGGI
FAKULTAS
ILMU-ILMU KESEHATAN
JURUSAN
KESEHATAN MASYARAKAT
UNIVERSITAS
JENDERAL SOEDIRMAN
PURWOKERTO
2016
BAB I
A. Latar Belakang
Trematoda disebut juga cacing daun yaitu cacing yang termasuk
kelas Trematoda kelas Platyhelminthes dan hidup sebagai parasit. Keong air di
sini berfungsi sebagai hospes perantara pertama (HP 1) (Staf Pengajar FKUI,
2009). Tidak ketinggalan manusia pun merupakan hospes utama bagi
cacing trematoda. Trematoda menurut tempat hidupnya dibagi menjadi empat yaitu
trematoda hati, trematoda paru, trematoda usus, dan trematoda darah (Sutanta, 2009).
Siput merupakan perantara (hospes) dari cacing trematoda yang dapat menyebabkan penyakit pada manusia dan hewan. Pada tubuh siput tersebut berkembang cerkaria yang pada waktu tertentu keluar mencari hospes untuk bertumbuh lebih lanjut. Apabila mendapatkan hospes maka mirasidium tersebut akan masuk ke dalam tubuh manusia atau hewan dengan menembus kulit, selanjutnya akan masuk dalam pembuluh darah dan bertumbuh menjadi cacing dewasa (Hafsah, 2013).
Siput merupakan perantara (hospes) dari cacing trematoda yang dapat menyebabkan penyakit pada manusia dan hewan. Pada tubuh siput tersebut berkembang cerkaria yang pada waktu tertentu keluar mencari hospes untuk bertumbuh lebih lanjut. Apabila mendapatkan hospes maka mirasidium tersebut akan masuk ke dalam tubuh manusia atau hewan dengan menembus kulit, selanjutnya akan masuk dalam pembuluh darah dan bertumbuh menjadi cacing dewasa (Hafsah, 2013).
Keong mas (Pomacea canaliculata)
tergolong dalam family Ampullaridae dan ordo Mesogastropoda. Pada bagian kepala keong mas terdapat sepasang
tentakel panjang berpangkal di atas kepala (Rusdy, 2010). Gastropoda air tawar umumnya ditemukan tersebar dan
berkembang pada berbagai macam habitat, seperti sawah, saluran irigasi, sungai,
selokan dan danau/telaga. Dari berbagai macam habitat yang telah dikemukakan,
stadium dewasa gastropoda air tawar sering ditemukan pada tanaman air, batang
padi, pematang sawah, lumpur, tepi kolam, tepi sungai, batu, dasar sungai,
batang kayu yang lapuk dan daun daun (Kariono et al, 2013).
B. Tujuan
1. Untuk mengetahui ada tidaknya infeksi larva cacing
trematoda pada sampel siput yang diperiksa.
2.
Mengetahui
jenis larva cacing trematoda pada sampel siput yang diperiksa.
C.
BAB
II
METODE
A.
Alat
dan Bahan
Alat dan bahan
yang digunakan :
1.
Object
glass
2.
Cover
glass
3. Mikroskop cahaya
4. Pisau
5. Talenan / alas kayu
6. Tisu
7. Nampan
8. Keong
Mas
9. Sumpil
10. Kraca
B.
Cara
Kerja
1. Siapkan alat dan bahan yang diperlukan
untuk praktikum.
2. Pastikan mikroskop dalam keadaan baik
yaitu berada di permukaan yang datar, kabel aman dan dapat berfungsi dengan
baik.
3. Keong mas/kraca/sumpil diletakkan pada
talenan/alas kayu.
4. Keong mas/kraca/sumpil dipotong pada
segmen ke 3 dari ujung cangkang (1/3 bagian cangkang keong).
5. Lendir diulaskan pasa object glass, kemudian
ditutup dengan cover glass.
6. Nyalakan mikroskop dan atur cahaya.
7. Letakkan spesimen di meja preparat.
8. Atur lensa objektif dari perbesaran yang
paling kecil dan cari fokus cahayanya.
9. Amati objek/spesimen di mikroskop.
BAB
III
HASIL
DAN PEMBAHASAN
A.
Hasil
No.
|
Sampel
|
Hasil
|
1.
|
Keong
mas 1
|
-
|
2.
|
Keong
mas 2
|
-
|
3.
|
Keong
mas 3
|
-
|
4.
|
Kraca
1
|
-
|
5.
|
Kraca
2
|
-
|
6.
|
Kraca
3
|
-
|
7.
|
Sumpil
1
|
-
|
8.
|
Sumpil
2
|
-
|
9.
|
Sumpil
3
|
-
|
Hasil yang didapatkan dari pemeriksaan keong, kraca dan sumpil
yaitu negatif karena tidak sitemukan adanya infeksi larva cacing trematoda
yang terdapat pada ketiga macam sampel tersebut setelah dilakukan pengamatan di
bawah mikroskop. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, seperti :
1. Air yang mengaliri sawah bersih dan tidak terkontaminasi oleh
suatu apapun karena air tersebut selalu dijaga kebersihannya oleh para petani
yang berada disawah tersebut.
2. Sawah tempat pengambilan sampel siput sudah dibajak menggunakan
traktor, bukan kerbau. Penggunaan traktor saat membajak sawah membuat
sawah tidak terkontaminasi karena kotoran kerbau dan membuat siput tidak
terinfeksi penyakit apapun yang ditimbulkan oleh kerbau tersebut.
3. Pemotongan cangkang tidak pas pada organ hati siput yaitu bukan
pada lingkaran segmen yang ketiga dari ujung siput
4. Saat melakukan identifikasi praktikan kurang teliti dan tidak
mengikuti prosedur yang ada sehingga pada beberapa siput tidak ditemukan
stadium perkembangan cacing trematoda.
5.
Siput memang belum terinfeksi cacing Trematoda.
6.
Daerah ditemukannya siput belum tercemar sehingga cacing
Trematodanya tidak ada.
B.
Pembahasan
Trematoda disebut juga cacing daun yaitu cacing yang termasuk
kelas Trematoda kelas Platyhelminthes dan hidup sebagai parasit. Pada umumnya
cacing ini bersifat hermaprodit kecuali cacing Schistosoma. Spesies yang
termasuk parasit pada manusia termasuk subkelas Digenea, yang hidup sebagai
endoparasit. Pada beberapa spesies trematoda, telur matang menetas bila ditelan
keong (hospes perantara) dan keluarlah mirasidium yang masuk ke dalam jaringan
keong; atau telur dapat langsung menetas dan mirasidium berenang di air; dalam
waktu 24 jam mirasidium harus sudah menemukan keong air agar dapat melanjutkan
perkembangannya. Keong air di sini berfungsi sebagai hospes perantara pertama
(HP 1). Dalam keong air tersebut, mirasiudium berkembang menjadi spoorokista
yaitu kantung yang berisi embrio lalu berkembang lagi menjadi redia yang siap
dikeluarkan dari tubuh keong (Staf Pengajar FKUI, 2009).
Kelainan yang disebabkkan oleh cacing Trematoda tergantung dari
lokalisasi cacing, pengaruh rangsangan setempat, dan zat toksin yang
dikeluarkan oleh cacing. Cacing pada usus menimbulkan gejala ringan seperti
mual, muntah, dan diare. Cacing pada paru menimbulkan gejala batuk, sesak
napas, dan batuk darah (hemoptisis). Cacing pada saluran empedu hati
menimbulkan peradangan saluran empedu, penyumbatan aliran empedu, dan gejala
ikterus, serta hepatomegali (Staf Pengajar FKUI, 2009).
Gastropoda air tawar umumnya ditemukan
tersebar dan berkembang pada berbagai macam habitat seperti sawah, saluran
irigasi, sungai, selokan dan danau atau telaga. Dari beberapa jenis-jenis siput
ada diantaranya merupakan inang perantara parasit cacing trematoda, misalnya
pada jenis gastropoda spesies Lymnaea rubiginosa dan Melanoides
tuberculatta (Kariono et al, 2013).
Gastropoda air tawar umumnya ditemukan tersebar dan
berkembang pada berbagai macam habitat, seperti sawah, saluran irigasi, sungai,
selokan dan danau/telaga. Distribusi penyebaran gastropoda air tawar ini
umumnya meliputi daerah yang sangat luas, mulai dari dataran rendah sampai
dataran tinggi yang mempunyai ketinggian 2000 m di atas permukaan air laut.
Dari berbagai macam habitat yang telah dikemukakan, stadium dewasa gastropoda
air tawar sering ditemukan pada tanaman air, batang padi, pematang sawah,
lumpur, tepi kolam, tepi sungai, batu, dasar sungai, batang kayu yang lapuk dan
daun daun, untuk jenis Gyraulus convexiusculus dan Indoplanorbis
exustus tidak ditemukan pada Desa Kalawara dan Pandere karena pada kedua desa
tersebut untuk habitat kolam tanaman air disekitarnya sangat kurang bahkan
tidak ada, sehingga keberadaan jenis keong tersebut tidak ditemukan (Kariono et
al, 2013).
Faktor-faktor yang menyebabkan adanya perbedaan
jumlah individu pada setiap lokasi pengambilan sampel yaitu faktor fisik kimia lingkungan,
adapun untuk faktor fisik mencakup suhu, kelembaban, kecerahan dan kedalaman.
Faktor kimia meliputi pH air dan DO (Kadar Oksigen Terlarut). Pada setiap lokasi
pengambilan sampel terdapat perbedaan dalam setiap pengukuran, akan tetapi
perbedaan tersebut tidak signifikan dan sesuai dengan batas toleransi kemampuan
adaptasi dari jenisjenis gastropoda yang diperoleh (Kariono et al, 2013).
Secara umum gastropoda memberi manfaat kepada manusia, baik dagingnya sebagai bahan makanan yang berprotein tinggi sehingga dapat dikonsumsi oleh penduduk, juga sebagai pakan ternak unggas dan cangkangnya dapat dibuat berbagai macam lukisan, cendramata dan bunga-bungaan. Akan tetapi, selain memiliki berbagai macam manfaat tersebut, siput juga dapat merugikan yaitu sebagai hama yang merupakan ancaman bagi manusia karena memakan tanaman muda misalnya padi, serta beberapa jenis diantaranya ternyata dapat berpotensi sebagai inang perantara parasit cacing trematoda, yang stadium dewasanya berparasit pada manusia (Sutrisnawati, 2001).
Secara umum gastropoda memberi manfaat kepada manusia, baik dagingnya sebagai bahan makanan yang berprotein tinggi sehingga dapat dikonsumsi oleh penduduk, juga sebagai pakan ternak unggas dan cangkangnya dapat dibuat berbagai macam lukisan, cendramata dan bunga-bungaan. Akan tetapi, selain memiliki berbagai macam manfaat tersebut, siput juga dapat merugikan yaitu sebagai hama yang merupakan ancaman bagi manusia karena memakan tanaman muda misalnya padi, serta beberapa jenis diantaranya ternyata dapat berpotensi sebagai inang perantara parasit cacing trematoda, yang stadium dewasanya berparasit pada manusia (Sutrisnawati, 2001).
Berdasarkan
hasil penelitian jenis-jenis gastropoda air tawar yang ditemukan yakni Lymnaea
rubiginosa, Bellamnya javanica, Melanoides tuberculata, Pomacea
caniculata dan Thiara scabra, yang tersebar pada beberapa macam
lokasi dan macam habitat. Penyebaran jenis-jenis gastropoda air tawar pada
habitat yang berbeda tersebut tergantung dari kemampuan adaptasi setiap jenis
terhadap kondisi lingkungan habitatnya. Kebanyakan gastropoda air tawar
ditemukan pada perairan dangkal dan beraliran tenang, seperti sawah dan kolam. Berbeda
dengan Melanoides tuberculata menyukai habitat air beraliran agak deras
serta bagian dasar yang berlumpur, sehingga pada siput ini hampir semua habitat
dapat dihuninya (Putri et al, 2013).
Keong mas (Pomacea canaliculata)
tergolong dalam family Ampullaridae dan ordo Mesogastropoda. Cangkang keong
mas berwarna kuning. Lingkaran (ubin) cangkang terdiri dari lima sampai enam
buah dipisahkan dengan kedalaman yang disebut suture, bukaan cangkang (aperture)
berbentuk panjang dan hampir bulat. Keong mas jantan memiliki aperture lebih
bulat dari betina. Ukuran cangkang bervariasi dengan lebar 4-6 cm dan tinggi
4,5-7,5 cm. Operculum(tutup cangkang) umumnya tebal
dan strukturnya berpusat di pusat cangkang. Oper-culum dapat ditarik masuk ke
dalam aperture. Pada bagian kepala keong mas terdapat sepasang tentakel panjang
berpangkal di atas kepala (Rusdy, 2010).
DAFTAR PUSTAKA
Entjang, Indah. 2003. Mikrobiologi dan Parasitologi untuk Akademi
Keperawatan. Bandung : PT. Citra Aditya Bakti.
Hafsah.
2013. “Karakteristik Habitat dan Morfologi Siput Ongcomelania Hupensis LindoensisSebagai Hewan Reservoir dalam
Penularan Shistosomiasis pada Manusia dan Ternak di Taman Nasional Lore Lindu”. J. Manusia Dan Lingkungan. Volume
20 (2) :
144-152.
Kariono, Magfirah, Achmad Ramadhan
dan Bustamin. 2013. “Kepadatan dan Frekuensi Kehadiram Gastropoda Air Tawar di
Kecamatan Gumbasa Kabupaten Sigi”. E-Jipbiol. Volume 1 : 57-64.
Onggowaluyo,
Jangkung. 2002. Parasitologi Medik I Helmintologi: Pendekatan Aspek
Identifikasi, Diagnosis, dan Klinik. Jakarta : EGC.
Putri,
Illa Faradila, Achmad Ramadhan dan Sutrisnawati.2013. “Prevalensi Larva Fasciola Gigantica pada Beberapa Jenis
Gastropoda Air Tawar di Kecamatan Pololo Kabupaten Sigi”. E-Jipbiol. Volume 2 : 8-12.
Rusdy, Alfian. 2010. “Pengaruh Pemberian Ekstrak Bawang Putih Terhadap
Mortalitas Keong Mas”. J. Floratek.
Volume 5 : 172 – 180.
Staf Pengajar
Departemen Parasitologi FKUI. 2009. Buku Ajar Parasitologi Kedokteran.
Jakarta : Balai Penerbit FKUI.
Sutanta, Inge, dkk. 2009. Buku Ajar Parasitologi Kedokteran Edisi Keempat. Jakarta : Balai Penerbit FKUI.
Sutrisnawati.
2001. Beberapa Aspek Biologi
Gastropoda Air Tawar Serta Potensinya Sebagai Inang Perantara Parasit Cacing
Trematoda Pada Manusia di Daerah Lembah Napu Sulawesi Tengah. [Thesis].
Bandung : Universitas Padjadjaran.







0 komentar:
Posting Komentar