BTemplates.com

Selasa, 06 September 2016

LAPORAN PRAKTIKUM PEMERIKSAAN TREMATODA PADA KEONG MAS, KRACA DAN SUMPIL

PEMERIKSAAN TREMATODA PADA KEONG MAS, KRACA DAN SUMPIL






Disusun Oleh :
Annisa Fildzah Defanty
I1A015001


LAPORAN PRAKTIKUM PARASITOLOGI



KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI, DAN PENDIDIKAN TINGGI
FAKULTAS ILMU-ILMU KESEHATAN
JURUSAN KESEHATAN MASYARAKAT
UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
PURWOKERTO
2016

BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Trematoda disebut juga cacing daun yaitu cacing yang termasuk kelas Trematoda kelas Platyhelminthes dan hidup sebagai parasit. Keong air di sini berfungsi sebagai hospes perantara pertama (HP 1) (Staf Pengajar FKUI, 2009). Tidak ketinggalan manusia pun merupakan hospes utama bagi cacing trematoda. Trematoda menurut tempat hidupnya dibagi menjadi empat yaitu trematoda hati, trematoda paru, trematoda usus, dan trematoda darah (Sutanta, 2009).

Siput merupakan perantara (hospes) dari cacing trematoda yang dapat menyebabkan penyakit pada manusia dan hewan. Pada tubuh siput tersebut berkembang cerkaria yang pada waktu tertentu keluar mencari hospes untuk bertumbuh lebih lanjut. Apabila mendapatkan hospes maka mirasidium tersebut akan masuk ke dalam tubuh manusia atau hewan dengan menembus kulit, selanjutnya akan masuk dalam pembuluh darah dan bertumbuh menjadi cacing dewasa (Hafsah, 2013).
Keong mas (Pomacea canaliculata) tergolong dalam family Ampullaridae dan ordo Mesogastropoda. Pada bagian kepala keong mas terdapat sepasang tentakel panjang berpangkal di atas kepala (Rusdy, 2010). Gastropoda air tawar umumnya ditemukan tersebar dan berkembang pada berbagai macam habitat, seperti sawah, saluran irigasi, sungai, selokan dan danau/telaga. Dari berbagai macam habitat yang telah dikemukakan, stadium dewasa gastropoda air tawar sering ditemukan pada tanaman air, batang padi, pematang sawah, lumpur, tepi kolam, tepi sungai, batu, dasar sungai, batang kayu yang lapuk dan daun daun (Kariono et al, 2013).



B.     Tujuan
1.   Untuk mengetahui ada tidaknya infeksi larva cacing trematoda pada sampel siput yang diperiksa.
2.      Mengetahui jenis larva cacing trematoda pada sampel siput yang diperiksa.


C.     
BAB II
METODE
A.    Alat dan Bahan
Alat dan bahan yang digunakan :
1.      Object glass
2.      Cover glass
3.      Mikroskop cahaya
4.      Pisau
5.      Talenan / alas kayu
6.      Tisu
7.      Nampan
8.      Keong Mas
9.      Sumpil
10.  Kraca

B.     Cara Kerja
1.     Siapkan alat dan bahan yang diperlukan untuk praktikum.
2.     Pastikan mikroskop dalam keadaan baik yaitu berada di permukaan yang datar, kabel aman dan dapat berfungsi dengan baik.
3.     Keong mas/kraca/sumpil diletakkan pada talenan/alas kayu.
4.  Keong mas/kraca/sumpil dipotong pada segmen ke 3 dari ujung cangkang (1/3 bagian cangkang keong).
5.     Lendir diulaskan pasa object glass, kemudian ditutup dengan cover glass.
6.    Nyalakan mikroskop dan atur cahaya.
7.    Letakkan spesimen di meja preparat.
8.    Atur lensa objektif dari perbesaran yang paling kecil dan cari fokus cahayanya.
9.    Amati objek/spesimen di mikroskop.




BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN
A.    Hasil
No.
Sampel
Hasil
1.
Keong mas 1
-
2.
Keong mas 2
-
3.
Keong mas 3
-
4.
Kraca 1
-
5.
Kraca 2
-
6.
Kraca 3
-
7.
Sumpil 1
-
8.
Sumpil 2
-
9.
Sumpil 3
-
Hasil yang didapatkan dari pemeriksaan keong, kraca dan sumpil yaitu negatif karena tidak sitemukan adanya infeksi larva cacing trematoda yang terdapat pada ketiga macam sampel tersebut setelah dilakukan pengamatan di bawah mikroskop. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, seperti :
1.        Air yang mengaliri sawah bersih dan tidak terkontaminasi oleh suatu apapun karena air tersebut selalu dijaga kebersihannya oleh para petani yang berada disawah tersebut.
2.        Sawah tempat pengambilan sampel siput sudah dibajak menggunakan traktor, bukan kerbau. Penggunaan traktor saat membajak sawah membuat sawah tidak terkontaminasi karena kotoran kerbau dan membuat siput tidak terinfeksi penyakit apapun yang ditimbulkan oleh kerbau tersebut.
3.  Pemotongan cangkang tidak pas pada organ hati siput yaitu bukan pada lingkaran segmen yang ketiga dari ujung siput
4.         Saat melakukan identifikasi praktikan kurang teliti dan tidak mengikuti prosedur yang ada sehingga pada beberapa siput tidak ditemukan stadium perkembangan cacing trematoda.
5.          Siput memang belum terinfeksi cacing Trematoda.
6.          Daerah ditemukannya siput belum tercemar sehingga cacing Trematodanya tidak ada.

B.     Pembahasan
Trematoda disebut juga cacing daun yaitu cacing yang termasuk kelas Trematoda kelas Platyhelminthes dan hidup sebagai parasit. Pada umumnya cacing ini bersifat hermaprodit kecuali cacing Schistosoma. Spesies yang termasuk parasit pada manusia termasuk subkelas Digenea, yang hidup sebagai endoparasit. Pada beberapa spesies trematoda, telur matang menetas bila ditelan keong (hospes perantara) dan keluarlah mirasidium yang masuk ke dalam jaringan keong; atau telur dapat langsung menetas dan mirasidium berenang di air; dalam waktu 24 jam mirasidium harus sudah menemukan keong air agar dapat melanjutkan perkembangannya. Keong air di sini berfungsi sebagai hospes perantara pertama (HP 1). Dalam keong air tersebut, mirasiudium berkembang menjadi spoorokista yaitu kantung yang berisi embrio lalu berkembang lagi menjadi redia yang siap dikeluarkan dari tubuh keong (Staf Pengajar FKUI, 2009).
Kelainan yang disebabkkan oleh cacing Trematoda tergantung dari lokalisasi cacing, pengaruh rangsangan setempat, dan zat toksin yang dikeluarkan oleh cacing. Cacing pada usus menimbulkan gejala ringan seperti mual, muntah, dan diare. Cacing pada paru menimbulkan gejala batuk, sesak napas, dan batuk darah (hemoptisis). Cacing pada saluran empedu hati menimbulkan peradangan saluran empedu, penyumbatan aliran empedu, dan gejala ikterus, serta hepatomegali (Staf Pengajar FKUI, 2009).
Gastropoda air tawar umumnya ditemukan tersebar dan berkembang pada berbagai macam habitat seperti sawah, saluran irigasi, sungai, selokan dan danau atau telaga. Dari beberapa jenis-jenis siput ada diantaranya merupakan inang perantara parasit cacing trematoda, misalnya pada jenis gastropoda spesies Lymnaea rubiginosa dan Melanoides tuberculatta (Kariono et al, 2013).
Gastropoda air tawar umumnya ditemukan tersebar dan berkembang pada berbagai macam habitat, seperti sawah, saluran irigasi, sungai, selokan dan danau/telaga. Distribusi penyebaran gastropoda air tawar ini umumnya meliputi daerah yang sangat luas, mulai dari dataran rendah sampai dataran tinggi yang mempunyai ketinggian 2000 m di atas permukaan air laut. Dari berbagai macam habitat yang telah dikemukakan, stadium dewasa gastropoda air tawar sering ditemukan pada tanaman air, batang padi, pematang sawah, lumpur, tepi kolam, tepi sungai, batu, dasar sungai, batang kayu yang lapuk dan daun daun, untuk jenis Gyraulus convexiusculus dan Indoplanorbis exustus tidak ditemukan pada Desa Kalawara dan Pandere karena pada kedua desa tersebut untuk habitat kolam tanaman air disekitarnya sangat kurang bahkan tidak ada, sehingga keberadaan jenis keong tersebut tidak ditemukan (Kariono et al, 2013).
Faktor-faktor yang menyebabkan adanya perbedaan jumlah individu pada setiap lokasi pengambilan sampel yaitu faktor fisik kimia lingkungan, adapun untuk faktor fisik mencakup suhu, kelembaban, kecerahan dan kedalaman. Faktor kimia meliputi pH air dan DO (Kadar Oksigen Terlarut). Pada setiap lokasi pengambilan sampel terdapat perbedaan dalam setiap pengukuran, akan tetapi perbedaan tersebut tidak signifikan dan sesuai dengan batas toleransi kemampuan adaptasi dari jenisjenis gastropoda yang diperoleh (Kariono et al, 2013).
Secara umum gastropoda memberi manfaat kepada manusia, baik dagingnya sebagai bahan makanan yang berprotein tinggi sehingga dapat dikonsumsi oleh penduduk, juga sebagai pakan ternak unggas dan cangkangnya dapat dibuat berbagai macam lukisan, cendramata dan bunga-bungaan. Akan tetapi, selain memiliki berbagai macam manfaat tersebut, siput juga dapat merugikan yaitu sebagai hama yang merupakan ancaman bagi manusia karena memakan tanaman muda misalnya padi, serta beberapa jenis diantaranya ternyata dapat berpotensi sebagai inang perantara parasit cacing trematoda, yang stadium dewasanya berparasit pada manusia (Sutrisnawati, 2001).
Berdasarkan hasil penelitian jenis-jenis gastropoda air tawar yang ditemukan yakni Lymnaea rubiginosa, Bellamnya javanica, Melanoides tuberculata, Pomacea caniculata dan Thiara scabra, yang tersebar pada beberapa macam lokasi dan macam habitat. Penyebaran jenis-jenis gastropoda air tawar pada habitat yang berbeda tersebut tergantung dari kemampuan adaptasi setiap jenis terhadap kondisi lingkungan habitatnya. Kebanyakan gastropoda air tawar ditemukan pada perairan dangkal dan beraliran tenang, seperti sawah dan kolam. Berbeda dengan Melanoides tuberculata menyukai habitat air beraliran agak deras serta bagian dasar yang berlumpur, sehingga pada siput ini hampir semua habitat dapat dihuninya (Putri et al, 2013).
Keong mas (Pomacea canaliculata) tergolong dalam family Ampullaridae dan ordo Mesogastropoda. Cangkang keong mas berwarna kuning. Lingkaran (ubin) cangkang terdiri dari lima sampai enam buah dipisahkan dengan kedalaman yang disebut suture, bukaan cangkang (aperture) berbentuk panjang dan hampir bulat. Keong mas jantan memiliki aperture lebih bulat dari betina. Ukuran cangkang bervariasi dengan lebar 4-6 cm dan tinggi 4,5-7,5 cm. Operculum(tutup cangkang) umumnya tebal dan strukturnya berpusat di pusat cangkang. Oper-culum dapat ditarik masuk ke dalam aperture. Pada bagian kepala keong mas terdapat sepasang tentakel panjang berpangkal di atas kepala (Rusdy, 2010).








DAFTAR PUSTAKA
Entjang, Indah. 2003. Mikrobiologi dan Parasitologi untuk Akademi Keperawatan. Bandung : PT. Citra Aditya Bakti.
Hafsah. 2013. “Karakteristik Habitat dan Morfologi Siput Ongcomelania Hupensis LindoensisSebagai Hewan Reservoir dalam Penularan Shistosomiasis pada Manusia dan Ternak di Taman Nasional Lore Lindu”. J. Manusia Dan Lingkungan. Volume 20 (2) : 144-152.
Kariono, Magfirah, Achmad Ramadhan dan Bustamin. 2013. “Kepadatan dan Frekuensi Kehadiram Gastropoda Air Tawar di Kecamatan Gumbasa Kabupaten Sigi”. E-Jipbiol. Volume 1 : 57-64.
Onggowaluyo, Jangkung. 2002. Parasitologi Medik I Helmintologi: Pendekatan Aspek Identifikasi, Diagnosis, dan Klinik. Jakarta : EGC.
Putri, Illa Faradila, Achmad Ramadhan dan Sutrisnawati.2013. “Prevalensi Larva Fasciola Gigantica pada Beberapa Jenis Gastropoda Air Tawar di Kecamatan Pololo Kabupaten Sigi”. E-Jipbiol. Volume 2 : 8-12.
Rusdy, Alfian. 2010. “Pengaruh Pemberian Ekstrak Bawang Putih Terhadap Mortalitas Keong Mas”. J. Floratek. Volume  5 : 172 – 180.
Staf Pengajar Departemen Parasitologi FKUI. 2009. Buku Ajar Parasitologi Kedokteran. Jakarta : Balai Penerbit FKUI.
Sutanta, Inge, dkk. 2009. Buku Ajar Parasitologi Kedokteran Edisi Keempat. Jakarta : Balai Penerbit FKUI.
Sutrisnawati. 2001. Beberapa Aspek Biologi Gastropoda Air Tawar Serta Potensinya Sebagai Inang Perantara Parasit Cacing Trematoda Pada Manusia di Daerah Lembah Napu Sulawesi Tengah. [Thesis]. Bandung : Universitas Padjadjaran.


0 komentar:

Posting Komentar