BTemplates.com

Selasa, 06 September 2016

LAPORAN PRAKTIKUM UJI KUALITAS AIR

UJI KUALITAS AIR


Disusun oleh :
Annisa Fildzah Defanty        I1A015001
Missi Suci                               I1A015038
Hanawindra S.                      I1A015051
Ayu Pangesti                          I1A015071
Nur Fauzan Azhima             I1A015093
M. Fajri Adhianto                 I1A015107
Fita Aulia Ningtyas               I1A015111
La Re Nande Sangraena      I1A015123

Kelompok      : 1
Rombongan   : II
Asisten            : Febyana Noor Fadlilah
                           Niken Mawari Pangestika




LAPORAN PRAKTIKUM MIKROBIOLOGI


KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGI
UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS ILMU KESEHATAN
JURUSAN KESEHATAN MASYARAKAT
PURWOKERTO
2016






BAB I
PENDAHULUAN

A.                Latar Belakang
            Air merupakan sumber daya alam yang diperlukan untuk hidup orang banyak, bahkan oleh semua makhluk hidup. Oleh karena itu harus diperhatikan kualitas dan kuantitasnya. Air bersih yang memenuhi syarat kesehatan harus bebas dari pencemaran, sedangkan air minum harus memenuhi standar yaitu persyaratan fisik, kimia dan biologis, karena air minum yang tidak memenuhi standar kualitas dapat menimbulkan gangguan kesehatan (Morintoh, 2015). Air juga merupakan suatu sarana utama untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat, karena air merupakan salah satu media dari berbagai macam penularan penyakit (Kusnaedi, 2004).
Salah satu syarat air yaitu tidak mengandung mikroba Coliform (Fekal/Escherichia coli dan non-fecal). Coliform merupakan bakteri yang lazim digunakan sebagai indikator adanya polusi kotoran dan kondisi yang tidak baik terhadap air, di mana bakteri ini dapat menjadi sinyal untuk menentukan suatu sumber air telah terkontaminasi oleh patogen atau tidak, karena densitasnya berbanding lurus dengan tingkat pencemaran air, artinya makin sedikit kandungan Coliform, artinya kualitas air semakin baik. Hasil penelitian menemukan bahwa bakteri coliform ini menghasilkan zat etionin yang dapat menyebabkan kanker (Alang, 2015).
Pemeriksaan derajat pencemaran air secara mikrobiologi umumnya ditunjukkan dengan kehadiran bakteri indikator seperti Coliform dan fecal coli (Ramona, 2007). Kelompok bakteri Coliform angtara lain Escherichia coli, Enterrobacter aerogenes, dan Citrobacter fruensii. Keberadaan bakteri ini dalam air minum juga menunjukkan adanya bakteri patogen lain, misalnya shigella, yang bisa menyebabkan diare hingga muntaber.
Uji kualitatif Coliform secara lengkap terdiri dari tiga tahap yaitu uji dugaan (presumptived test), uji penetapan (confirmed test), dan uji pelengkap (completed test) (Suriawiria, 1985). Metode pengujian yang digunakan adalah metode Most Probable Number (MPN) atau Jumlah Perkiraan Terbatas (JPT) (Gobel, 2008).

B.                Tujuan
           Tujuan dari praktikum ini adalah untuk mengetahui cara kerja untuk mendeteksi adanya bakteri coliform yang merupakan kontaminan utama sumber air minum.





BAB II
MATERI

A.                Materi
Alat-alat yang digunakan dalam praktikum uji kualitas air adalah tabung reaksi, pipet ukur dan filler, pipet tetes, pembakar bunsen, jarum ose, rak tabung reaksi, cawan petri.
Bahan yang digunakan dalam praktikum ini yaitu sampel air sumur, medium EMBA, medium Tryptone Broth (TB), medium Protease Broth (PB), media Simmon’s Citrate, LBSS, LBDS, reagen covak indole, reagen methyle red, KOH 40%, α- naphtole, simmon’s citrat.






BAB II
PEMBAHASAN

A.                Pembahasan
Coliform merupakan suatu grup bakteri yang digunakan sebagai indicator adanya polusi kotoran dan kondisi yang tidak baik terhadap air, makanan, susu dan produkproduk susu. Coliform sebagai suatu kelompok dicirikan sebagai bakteri berbentuk batang, gram negatif, tidak membentuk spora, aerobik dan anaerobic fakultatif yang memfermentasi laktosa dengan menghasilkan asam dan gas dalam waktu 48 jam pada suhu 35oC. Adanya bakteri koliform di dalam makanan/minuman menunjukkan kemungkinan adanya mikroba yang bersifat enteropatogenik dan atau toksigenik yang berbahaya bagi kesehatan (Widiyanti, 2004).
Kelompok Coliform mempunyai beberapa ciri yang juga dimiliki oleh anggota-anggota genus Salmonella dan Shigella, yaitu dua genera yang mempunyai spesies-spesies enterik patogenik. Namun, ada perbedaan biokimiawi utama yang nyata yaitu bahwa Coliform dapat memfermentasikan laktose sedangkan Salmonella dan Shigella tidak memfermentasikan laktose (Pelczar dan Chan, 1988).
Bakteri Coliform merupakan flora normal pada usus manusia dan hewan, tetapi akan menjadi patogen bila diluar saluran pencernaan, saluran kemih, pada selaput otak yang akan menyebabkan radang, terutama pada individu yang mempunyai daya tahan tubuh rendah, misalnya bayi, orang lanjut usia dan orang-orang yang baru sembuh dari sakit (Sunardi, 2014).
Bakteri Coliform dapat dibedakan menjadi 2 grup yaitu : (1) Coliform fekal misalnya Escherichia coli dan ( 2 ) Coliform nonfekal misalnya Enterobacter aerogenes. Escherichia coli merupakan bakteri yang berasal dari kotoran hewan atau manusia, sedangkan Enterobacter aerogenes biasanya ditemukan pada hewan atau tanam-tanaman yang telah mati (Widiyanti, 2004).
Istilah jasad indikator atau mikroorganisme indikator sebagaimana digunakan dalam analisis air mengacu pada sejenis mikroorganisme yang kehadirannya di dalam air merupakan bukti bahwa air tersebut terpolusi oleh bahan tinja dari manusia atau hewan berdarah panas. Artinya, terdapat peluang bagi berbagai macam mikroorganisme patogenetik, yang secara berkala terdapat dalam saluran pencernaan, untuk masuk ke dalam air tersebut (Pelczar dan Chan, 1988).
Beberapa ciri penting jasad indikator adalah :
a.         Terdapat dalam air tercemar dan tidak ada di dalam air yang tidak tercemar
Penyakit yang berasal dari air terjadi karena meminum air yang tercemar. Sebenarnya sumber infeksinya bukan berasal dari airnya, melainkan tinja yang berasal dari manusia atau hewan yang mencemari air tersebut. Tinja tersebut mengandung patogen-patogen enteric bila berasal dari orang sakit atau penular penyakit (Pelczar dan Chan, 1988).
b.        Terdapat dalam air bila ada patogen
         Perpindahan organism-organisme penyakit yang berasal dari air dapat terjadi secara lebih langsung daripada ini. Misalnya perpindahan organisme dapat terjadi dari ekskreta penderita ke mulut orang lain lewat tangan atau benda-benda yang secara potensial tercemari mikroorganisme patogenik. Benda tercemar ini mungkin pula dicemari oleh serangga, seperti lalat rumah umum yang sebelumnya telah dihinggap pada kotoran (Pelczar dan Chan, 1988).

1.         Jumlah mikroorganisme indikator berkolerasi dengan kadar polusi
2.         Mempunyai kemampuan bertahan hidup yan lebih besar daripada patogen
       3.     Mempunyai sifat yang seragam dan mantap
4.     Tidak berbahaya bagi manusia dan hewan
5.   Terdapat dalam jumlah yang lebih banyak daripada patogen (hal ini membuatnya mudah terdeteksi)
        6.      Mudah dideteksi dengan teknik-teknik laboratorium yang sederhana
Beberapa spesies atau kelompok bakteri telah dievaluasi untuk menentukan sesuai tidaknya untuk digunakan sebagai mikroorganisme indikator. Di antara organisme-organisme yang dipelajari, yang hampir memenuhi semua persyaratan suatu organisme indikator yang ideal ialah Escherichia coli dan kelompok bakteri koli lainnnya. Bakteri-bakteri tersebut dianggap sebagai indikator polusi tinja yang dapat diandalkan (Pelczar dan Chan, 1988).
Uji kualitas air secara mikrobiologis terdapat empat tahap yaitu Uji penduga (presumptive test), Uji tetap (confirmed test), Uji pelengkap (completed test), dan Uji IMVIC (Widiyanti, 2004).
a.         Uji penduga (presumptive test)
Merupakan tes pendahuluan tentang ada tidaknya kehadiran bakteri Coliform berdasarkan terbentuknya asam dan gas disebabkan karena fermentasi laktosa oleh bakteri golongan koli. Terbentuknya asam dilihat dari kekeruhan pada media laktosa, dan gas yang dihasilkan dapat dilihat dalam tabung durham berupa gelembung udara. Tabung dinyatakan positif jika terbentuk gas sebanyak 10% atau lebih dari volume di dalam tabung durham. Banyaknya kandungan bakteri Escherichia coli dapat dilihat dengan menghitung tabung yang menunjukkan reaksi positif terbentuk asam dan gas dan dibandingkan dengan tabel MPN. Metode MPN dilakukan untuk menghitung jumlah mikroba di dalam contoh yang berbentuk cair. Bila inkubasi 1 x 24 jam hasilnya negatif, maka dilanjutkan dengan inkubasi 2 x 24 jam pada suhu 35oC. Jika dalam waktu 2 x 24 jam tidak terbentuk gas dalam tabung durham, dihitung sebagai hasil negatif. Jumlah tabung yang positif dihitung pada masing-masing seri. MPN penduga dapat dihitung dengan melihat tabel MPN (Widiyanti, 2004).
b.        Uji tetap (confirmed test)
Hasil uji dugaan dilanjutkan dengan uji ketetapan. Tabung yang positif terbentuk asam dan gas terutama pada masa inkubasi 1 x 24 jam, suspensi ditanamkan pada media Eosin Methylen Biru Agar ( EMBA ) secara aseptik dengan menggunakan jarum inokulasi. Koloni bakteri Escherichia coli tumbuh berwarna merah kehijauan dengan kilat metalik atau koloni berwarna merah muda dengan lendir untuk kelompok koliform lainnya (Widiyanti, 2004).
c.         Uji pelengkap (completed test)
Pengujian selanjutnya dilanjutkan dengan uji kelengkapan untuk menentukan bakteri Escherichia coli. Koloni yang berwarna pada uji ketetapan diinokulasikan ke dalam medium kaldu laktosa dan medium agar miring Nutrient Agar ( NA ), dengan jarum inokulasi secara aseptik. Diinkubasi pada suhu 370C selama 1 x 24 jam. Bila hasilnya positif terbentuk asam dan gas pada kaldu laktosa, maka sampel positif mengandung bakteri Escherichia coli. Media agar miring NA dibuat pewarnaan gram dimana bakter Escherichia coli menunjukkan gram negatif berbentuk batang pendek. Sedangkan untuk membedakan bakteri golongan koli dari bakteri golongan coli fekal (berasal dari tinja hewan berdarah panas), pekerjaan dibuat duplo, dimana satu seri diinkubasi pada suhu 370C (untuk golongan koli ) dan satu seri diinkubasi pada suhu 420C (untuk golongan koli fekal). Bakteri golongan koli tidak dapat tumbuh dengan baik pada suhu 420C, sedangkan golongan koli fekal dapat tumbuh dengan baik pada suhu 420C (Widiyanti, 2004).
d.        Uji IMVIC
1)    Uji Indole
Uji Indol, terbentuk lapisan (cincin) berwarna merah muda pada permukaan biakan setelah penambahan reagen kovaks. Artinya bakteri ini membentuk indol dari tryptopan sebagai sumber karbon. Asam amino triptofan merupakan komponen asam amino yang lazim terdapat pada protein sehingga asam amino ini dengan mudah dapat digunakan oleh mikroorganisme akibat penguraian protein. Ini menunjukan hasil positif dan menguatkan kemungkinan adanya bakteri Escherichia coli karena Escherichia coli merupakan bakteri yang dapat membentuk indol dari tryptopan sebagai sumber karbonnya (Bambang, 2014).
2)    Uji Methyle Red (MR)
Uji metil merah akan berwarna merah pada pH 4,4 dan berwarna kuning pada pH 6,2. Pada uji metil merah mendapatkan hasil positif karena terjadi perubahan warna menjadi merah setelah ditambahkan indikator metal merah. Artinya, bakteri ini mengahasilkan asam campuran (metilen glikon) dari proses fermentasi glukosa yang terkandung dalam medium MR-VP. Terbentuknya asam campuran pada media akan menurunkan pH sampai 5,0 atau lebih rendah, oleh karena itu bila indikator metil ditambahkan pada biakan tersebut dengan pH serendah itu maka indikator tersebut menjadi merah (Bambang, 2014).
3)    Uji Voges Proskauer (VP)
Uji VP Hasilnya negatif, karena tidak terbentuk warna merah pada medium setelah ditambahkan alfanaftol dan KOH, hal ini disebabkan karena bakteri tidak menghasilkan produk netral seperti asetil metil karbinol (asetoin) dari hasil metabolisme glukosa melainkan menghasilkan asam. Adanya kandungan asetoin pada biakan akan menyebabkan perubahan warna merah ketika ditambahkan alfanaftol dan KOH 40%. Uji ini negatif untuk Escherichia coli karena Escherichia coli memfermentasikan karbohidrat menjadi produk asam dan tidak menghasilkan produk netral seperti asetoin (Bambang, 2014).
4)    Uji Citrat
Uji Sitrat, uji ini dilihat kemampuan bakteri untuk menggunakan sitrat sebagai satu-satunya sumber karbon. Jika bakteri mampu menggunakan sitrat sebagai sumberkarbonnya maka akan menaikan pH dan mengubah warna medium biakan dari hijau menjadi biru. Uji ini negatif untuk Escherichia coli karena Escherichia coli tidak dapat menggunakan sitrat sebagai sumber karbon (Bambang, 2014).
Reaksi uji IMVIC terdiri dari empat tahapan, yaitu Uji indole, Uji methyle red, Uji voges proskauer, dan Uji citrat.
a.         Uji Indole
Uji indole bertujuan mengidentifikasi kemampuan bakteri menghasilkan indole dengan menggunakan enzim tryptophanase. Produksi indole di dalam media dimungkinkan karena adanya tryptophan. Bakteri yang memiliki enzim tryptophanase menghidrolisis tryptophan. menjadi indole, piruvat dan amonia. Hal ini digunakan sebagai bagian dari prosedur IMVIC, sebuah tes yang dirancang untuk membedakan antara anggota keluarga Enterobacteriaceae (Nurtriana, 2016).
Tryptophan adalah asam amino esensial, yang teroksidasi oleh beberapa bakteri yang mengakibatkan pembentukan indole, asam piruvat dan amonia. Uji indole dilakukan dengan inokulasi organisme uji ke dalam tryptophan broth, yang mengandung tryptophan. Indole yang dihasilkan dideteksi dengan menambahkan reagen Kovac’s ini yang menghasilkan cincin berwarna merah. Lapisan alkohol berkonsentrasi warna merah berbentuk cincin terdapat di bagian atas. Hasil indole positif dinyatakan dengan adanya cincin merah hal ini disebabkan karena Indol bereaksi dengan aldehida. Hasil uji indole pada isolat bakteri E. coli adalah positif yang ditunjukan adanya cincin merah pada bagian atas (Nurtriana, 2016).
b.        Uji Methyle Red
Uji MR bertujuan untuk mendeteksi kemampuan organisme dalam memproduksi dan mempertahankan produk akhir asam stabil dari fermentasi glukosa. Beberapa bakteri menghasilkan sejumlah besar asam dari fermentasi. Methyl Red adalah indikator pH, yang tetap berwarna merah pada pH 4,4 atau kurang. Setelah inkubasi, indikator pH Methyl Red ditambahkan ke dalam kultur bkteri. Methyl Red berwarna merah pada pH di bawah 4,4 (hal ini menunjukkan hasil positif) dan kuning pada pH di atas 6,0. Warna oranye menunjukkan pH menengah dan dianggap hasil negatif (Nurtriana, 2016).
Hasil pengamatan untuk Uji MR pada isolat bakteri E. coli adalah positif yang ditunjukkan dengan larutan berwarna merah.
c.         Uji Voges Proskauer
VP adalah tes yang digunakan untuk mendeteksi acetoin dalam kultur cair bakteri. Pengujian ini dilakukan dengan menambahkan alpha-naftol dan kalium hidroksida dengan kaldu Voges Proskauer yang telah diinokulasi dengan bakteri. Warna merah cherry menunjukkan hasil yang positif, sedangkan warna kuning-coklat menunjukkan hasil negatif. Tes ini tergantung pada pencernaan glukosa menjadi acetylmethylcarbinol. Jika glukosa pecah, maka akan bereaksi dengan alpha-naftol (VP reagen 1) dan kalium hidroksida (VP reagen 2) untuk membentuk warna merah. Alpha-naftol dan kalium hidroksida adalah bahan kimia yang mendeteksi acetoin (Nurtriana, 2016).
Asetil-metil carbinol (acetoin) adalah perantara dalam produksi butilen glikol. Dalam tes ini dua reagen, 40% KOH dan alpha-naftol ditambahkan setelah inkubasi dan terkena oksigen. Jika terdapat acetoin, acetoin akan teroksidasi dengan adanya udara dan KOH menjadi diacetyl. Diacetyl kemudian bereaksi dengan komponen guanidin dari pepton, adanya alpha-naftol menghasilkan warna merah. Peran alpha-naftol adalah untuk katalis dan penguat warna. Hasil pengamatan untuk uji VP adalah negatif yang ditunjukan tidak adanya perubahan warna terhadap larutan VP (Nurtriana, 2016).
d.        Uji Citrat
Tes Citrat bertujuan mendeteksi kemampuan suatu organisme untuk memanfaatkan sitrat sebagai satu-satunya sumber karbon dan energi. Bakteri diinokulasi pada medium yang mengandung natrium sitrat dan indikator pH bromothymol biru. Media juga mengandung garam amonium anorganik, yang digunakan sebagai satu-satunya sumber nitrogen. Pemanfaatan sitrat melibatkan enzim citrat permease, yang memecah sitrat menjadi oksaloasetat dan asetat. Oksaloasetat lebih lanjut dipecah menjadi piruvat dan CO2. Produksi Na2CO3 serta NH3 dari pemanfaatan natrium sitrat dan garam amonium masing-masing menghasilkan pH basa. Hal ini menyebabkan perubahan warna medium dari hijau menjadi biru (Nurtriana, 2016).
Uji citrat dilakukan dengan inokulasi mikroorganisme ke dalam media sintetis organik, "Simons Citrate broth" apabila natrium sitrat adalah satu-satunya sumber karbon dan energi. Bromothymol blue digunakan sebagai indikator saat asam sitrat dimetabolisme, menghasilkan karbondioksida yang menggabungkan natrium dengan air untuk membentuk natrium karbonat yang merupakan produk alkaline yang menghasilkan perubahan warna dari hijau menjadi biru dan hal ini menunjukkan tes tersebut positif (Nurtriana, 2016). Hasil pengamatan untuk uji Citrat adalah negatif yang ditunjukan tidak adanya perubahan warna terhadap media uji citrat.
Hasil vs Pustaka
1.      Uji Pendugaan
Escherichia coli dapat dilihat dengan menghitung tabung yang menunjukkan reaksi positif terbentuk asam dan gas dan dibandingkan dengan tabel MPN. Metode MPN dilakukan untuk menghitung jumlah mikroba di dalam contoh yang berbentuk cair (Widiyanti, 2004).
Menurut hasil pengamatan uji kualitas air, pada uji pendugaan 3 tabung 10 ml LBDS, 3 Tabung 1 ml LBSS, 3 Tabung 0,1 ml LBSS, di dapat hanya 1 tabung 0,1 ml LBSS yang berubah warna kuning (asam) dan bergelembung dengan interpretasi 3/100ml.
2.      Uji Penetapan
Koloni bakteri Escherichia coli tumbuh berwarna merah kehijauan dengan kilat metalik atau koloni berwarna merah muda dengan lendir untuk kelompok koliform lainnya. (Widiyanti, 2004). Sedangkan menurut hasil pengamatan uji kualitas air yang dilakukan terdapat koloni typical coliform berwarna hijau metalik pada media EMBA. Jadi, dari hasil pengamatan tidak sesuai dengan pustaka yang ada.
3.      Uji Lengkap
Bila hasilnya positif terbentuk asam dan gas pada kaldu laktosa, maka sampel positif mengandung bakteri Escherichia coli. (Widiyanti, 2004). Sedangkan menurut hasil pengamatan uji kualitas air yang dilakukan terbentuk gas di dalam tabung durham. Jadi, dari hasil pengamatan sesuai dengan pustaka yang ada.
4.      Uji IMVIC
a.       Uji Indole
Uji Indole, terbentuk lapisan (cincin) berwarna merah muda pada permukaan biakan setelah penambahan reagen kovaks (Bambang, 2014). Sedangkan menurut pengamatan uji kualitas air yang dilakukan hasilnya negatif karena setelah di tetesi reagen covack indole tidak terbentuk cincin berwarna merah. Jadi, dari pengamatan tidak sesuai dengan pustaka yang ada.
b.      Uji Methyle Red
Uji methyl red akan berwarna merah pada pH 4,4 dan berwarna kuning pada pH 6,2. Pada uji metil merah mendapatkan hasil positif karena terjadi perubahan warna menjadi merah setelah ditambahkan indikator metal merah (Bambang, 2014).
Menurut pengamatan uji kualitas air yang dilakukan didapatkan hasil negatif karena setelah ditetesi dengan reagen methyl red tidak terjadi perubahan warna merah. Jadi, dari pengamatan tidak sesuai dengan pustaka yang ada.
c.       Uji Voges Proskauer
Pengujian ini dilakukan dengan menambahkan alpha-naftol dan kalium hidroksida dengan kaldu Voges Proskauer yang telah diinokulasi dengan bakteri. Warna merah cherry menunjukkan hasil yang positif, sedangkan warna kuning-coklat menunjukkan hasil negatif (Nurtriana, 2016).
Menurut pengamatan uji kualitas air hasil yang didapatkan positif karena setelah ditetesi KOH 40% dan α-naphtole terbentuk warna merah tidak terlalu pekat. Jadi, dari pengamatan sesuai dengan pustaka yang ada.
d.      Uji Citrat
Jika bakteri mampu menggunakan sitrat sebagai sumber karbonnya maka akan menaikan pH dan mengubah warna medium biakan dari hijau menjadi biru (Bambang, 2014). Sedangkan menurut pengamatan, hasil uji simmon citrate positif karena setelah distreak pada media simmon citrate dan di inkubasi selama 2x 24 jam pada suhu 37oC terjadi perubahan warna dari hijau menjadi biru. Jadi, hasil pengamatan sesuai dengan pustaka yang ada.






















DAFTAR PUSTAKA
Alang, H. 2015. Deteksi Coliform Air Pdam di Beberapa Kecamatan Kota Makassar. Prosiding Seminar Nasional Mikrobiologi Kesehatan dan Lingkungan 2 (6) : 16-20.

Bambang, A.G. 2014. Analisis Cemaran Bakteri Coliform dan Identifikasi Escherichia Coli Pada Air Isi Ulang dari Depot di Kota Manado. Jurnal Ilmiah Farmasi – UNSRAT . 3 (3) : 325-334.

Bohra, D.L., Vikas M., dan Chandan K.B.  2012. The Distribution of Coliform Bacteria in Waste Water. Microbiology Research. 3 (2) : 5-7.

Gobel, Risco B. 2008. Mikrobiologi Umum dalam Praktek. Makassar : Universitas Hasanuddin.
Kusnaedi. 2004. Mengolah Air Gambut dan Air Kotor Untuk Air Minum. Jakarta : Puspa Swara.
Morintoh, P., Jimmy F.R., dan Fransiska L. 2015. Analisis Perbedaan Uji Kualitas Air Sumur di Daerah Dataran Tinggi Kota Tomohon dan Dataran Rendah Kota Manado Berdasarkan Parameter Fisika. Jurnal e-Biomedik (eBm). 3 (1) : 424-429.
Nurtriana, V. Sri D., dan Sri S.D. 2016. Pola Resistensi Escherichia Coli terhadap Antibiotik pada Penderita Diare Anak di RSUD Kota Semarang. Semarang : tidak diterbitkan.
Pelczar, M.J. dan Chan E.C.S. 1988. Dasar-Dasar Mikrobiologi 2. Jakarta: UI Press.
Ramona, Y., R. Kawuri, dan I.B.G. Darmayasa. 2007. Penuntun Praktikum Mikrobiologi Umum Program Studi Farmasi. Bukit Jimbaran : FMIPA UNUD.
Suriawiria, U. 1985. Mikrobiologi Dasar Dalam Praktek. Jakarta : Gramedia.
Widiyanti, N.L.P.M. dan Ristiati N.P. 2004. Analisis Kualitatif Bakteri Koliform Pada Depo Air Minum Isi Ulang di Kota Singaraja Bali. Jurnal Ekologi Kesehatan. 3 (1) : 64 – 73.

0 komentar:

Posting Komentar