UJI KUALITAS AIR
Disusun oleh :
Annisa Fildzah Defanty I1A015001
Missi Suci I1A015038
Hanawindra S. I1A015051
Ayu Pangesti I1A015071
Nur Fauzan Azhima I1A015093
M. Fajri Adhianto I1A015107
Fita Aulia Ningtyas I1A015111
La Re Nande Sangraena I1A015123
Kelompok : 1
Rombongan : II
Asisten : Febyana Noor Fadlilah
Niken Mawari Pangestika
LAPORAN PRAKTIKUM MIKROBIOLOGI
KEMENTERIAN
RISET, TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGI
UNIVERSITAS
JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS ILMU
KESEHATAN
JURUSAN KESEHATAN
MASYARAKAT
PURWOKERTO
2016
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Air merupakan sumber daya alam yang diperlukan untuk hidup
orang banyak, bahkan oleh semua makhluk hidup. Oleh karena itu harus
diperhatikan kualitas dan kuantitasnya.
Air bersih yang memenuhi syarat kesehatan harus bebas dari pencemaran,
sedangkan air minum harus memenuhi standar yaitu persyaratan fisik, kimia dan
biologis, karena air minum yang tidak memenuhi standar kualitas dapat
menimbulkan gangguan kesehatan (Morintoh, 2015). Air juga merupakan suatu
sarana utama untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat, karena air
merupakan salah satu media dari berbagai macam penularan penyakit (Kusnaedi,
2004).
Salah satu syarat air yaitu tidak mengandung mikroba Coliform (Fekal/Escherichia
coli dan non-fecal). Coliform merupakan bakteri yang lazim digunakan
sebagai indikator adanya polusi kotoran dan kondisi yang tidak baik terhadap air,
di mana bakteri ini dapat menjadi sinyal untuk menentukan suatu sumber air
telah terkontaminasi oleh patogen atau tidak, karena densitasnya berbanding
lurus dengan tingkat pencemaran air, artinya makin sedikit kandungan Coliform,
artinya kualitas air semakin baik. Hasil penelitian menemukan bahwa bakteri
coliform ini menghasilkan zat etionin yang dapat menyebabkan kanker
(Alang, 2015).
Pemeriksaan derajat pencemaran air secara mikrobiologi umumnya
ditunjukkan dengan kehadiran bakteri indikator seperti Coliform dan fecal coli (Ramona, 2007). Kelompok bakteri Coliform angtara lain Escherichia coli, Enterrobacter
aerogenes, dan Citrobacter fruensii. Keberadaan bakteri ini dalam air minum
juga menunjukkan adanya bakteri patogen lain, misalnya shigella, yang bisa
menyebabkan diare hingga muntaber.
Uji kualitatif Coliform
secara lengkap terdiri dari tiga tahap yaitu uji dugaan (presumptived test),
uji penetapan (confirmed test), dan uji pelengkap (completed test) (Suriawiria,
1985). Metode pengujian yang digunakan adalah metode Most Probable Number (MPN)
atau Jumlah Perkiraan Terbatas (JPT) (Gobel, 2008).
B.
Tujuan
Tujuan dari
praktikum ini adalah untuk mengetahui cara kerja untuk mendeteksi adanya
bakteri coliform yang merupakan
kontaminan utama sumber air minum.
BAB II
MATERI
A.
Materi
Alat-alat
yang digunakan dalam praktikum uji kualitas air adalah tabung reaksi, pipet
ukur dan filler, pipet tetes, pembakar bunsen, jarum ose, rak tabung reaksi,
cawan petri.
Bahan
yang digunakan dalam praktikum ini yaitu sampel air sumur, medium EMBA, medium
Tryptone Broth (TB), medium Protease Broth (PB), media Simmon’s Citrate, LBSS,
LBDS, reagen covak indole, reagen methyle red, KOH 40%, α- naphtole, simmon’s citrat.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pembahasan
Coliform
merupakan suatu grup bakteri yang digunakan sebagai indicator adanya polusi
kotoran dan kondisi yang tidak baik terhadap air, makanan, susu dan
produkproduk susu. Coliform
sebagai suatu kelompok dicirikan sebagai bakteri berbentuk batang, gram negatif,
tidak membentuk spora, aerobik dan anaerobic fakultatif yang memfermentasi
laktosa dengan menghasilkan asam dan gas dalam waktu 48 jam pada suhu 35oC. Adanya bakteri koliform di dalam
makanan/minuman menunjukkan kemungkinan adanya mikroba yang bersifat
enteropatogenik dan atau toksigenik yang berbahaya bagi kesehatan (Widiyanti, 2004).
Kelompok
Coliform
mempunyai beberapa ciri yang juga dimiliki oleh anggota-anggota genus Salmonella dan Shigella, yaitu dua genera yang mempunyai spesies-spesies enterik
patogenik. Namun, ada perbedaan biokimiawi utama yang nyata yaitu bahwa Coliform dapat memfermentasikan laktose
sedangkan Salmonella dan Shigella tidak memfermentasikan laktose
(Pelczar dan Chan, 1988).
Bakteri Coliform merupakan flora normal pada usus
manusia dan hewan, tetapi akan menjadi patogen bila diluar saluran pencernaan,
saluran kemih, pada selaput otak yang akan menyebabkan radang, terutama pada individu
yang mempunyai daya tahan tubuh rendah, misalnya bayi, orang lanjut usia dan orang-orang
yang baru sembuh dari sakit (Sunardi, 2014).
Bakteri
Coliform
dapat dibedakan menjadi 2 grup yaitu : (1)
Coliform fekal
misalnya Escherichia coli dan ( 2 ) Coliform nonfekal
misalnya Enterobacter aerogenes. Escherichia coli merupakan
bakteri yang berasal dari kotoran hewan atau manusia, sedangkan Enterobacter
aerogenes biasanya ditemukan pada hewan atau tanam-tanaman yang telah mati
(Widiyanti, 2004).
Istilah
jasad indikator atau mikroorganisme indikator sebagaimana digunakan dalam
analisis air mengacu pada sejenis mikroorganisme yang kehadirannya di dalam air
merupakan bukti bahwa air tersebut terpolusi oleh bahan tinja dari manusia atau
hewan berdarah panas. Artinya, terdapat peluang bagi berbagai macam
mikroorganisme patogenetik, yang secara berkala terdapat dalam saluran
pencernaan, untuk masuk ke dalam air tersebut (Pelczar dan Chan, 1988).
a.
Terdapat dalam air tercemar dan tidak
ada di dalam air yang tidak tercemar
Penyakit
yang berasal dari air terjadi karena meminum air yang tercemar. Sebenarnya
sumber infeksinya bukan berasal dari airnya, melainkan tinja yang berasal dari
manusia atau hewan yang mencemari air tersebut. Tinja tersebut mengandung
patogen-patogen enteric bila berasal dari orang sakit atau penular penyakit
(Pelczar dan Chan, 1988).
b.
Terdapat dalam air bila ada patogen
Perpindahan
organism-organisme penyakit yang berasal dari air dapat terjadi secara lebih
langsung daripada ini. Misalnya perpindahan organisme dapat terjadi dari
ekskreta penderita ke mulut orang lain lewat tangan atau benda-benda yang
secara potensial tercemari mikroorganisme patogenik. Benda tercemar ini mungkin
pula dicemari oleh serangga, seperti lalat rumah umum yang sebelumnya telah
dihinggap pada kotoran (Pelczar dan Chan, 1988).
1. Jumlah mikroorganisme indikator berkolerasi dengan kadar polusi
2. Mempunyai kemampuan bertahan hidup yan lebih besar daripada patogen
3. Mempunyai sifat yang seragam dan mantap
4. Tidak berbahaya bagi manusia dan hewan
5. Terdapat dalam jumlah yang lebih banyak daripada patogen (hal ini membuatnya mudah terdeteksi)
4. Tidak berbahaya bagi manusia dan hewan
5. Terdapat dalam jumlah yang lebih banyak daripada patogen (hal ini membuatnya mudah terdeteksi)
6. Mudah dideteksi dengan teknik-teknik
laboratorium yang sederhana
Beberapa
spesies atau kelompok bakteri telah dievaluasi untuk menentukan sesuai tidaknya
untuk digunakan sebagai mikroorganisme indikator. Di antara organisme-organisme
yang dipelajari, yang hampir memenuhi semua persyaratan suatu organisme
indikator yang ideal ialah Escherichia
coli dan kelompok bakteri koli lainnnya. Bakteri-bakteri tersebut dianggap
sebagai indikator polusi tinja yang dapat diandalkan (Pelczar dan Chan, 1988).
Uji kualitas air secara mikrobiologis terdapat empat tahap yaitu Uji penduga (presumptive test), Uji tetap (confirmed test), Uji pelengkap (completed test), dan Uji IMVIC (Widiyanti, 2004).
Uji kualitas air secara mikrobiologis terdapat empat tahap yaitu Uji penduga (presumptive test), Uji tetap (confirmed test), Uji pelengkap (completed test), dan Uji IMVIC (Widiyanti, 2004).
a.
Uji
penduga (presumptive test)
Merupakan
tes pendahuluan tentang ada tidaknya kehadiran bakteri Coliform berdasarkan terbentuknya asam dan gas disebabkan karena
fermentasi laktosa oleh bakteri golongan koli. Terbentuknya asam dilihat dari
kekeruhan pada media laktosa, dan gas yang dihasilkan dapat dilihat dalam
tabung durham berupa gelembung udara. Tabung dinyatakan positif jika terbentuk
gas sebanyak 10% atau lebih dari volume di dalam tabung durham. Banyaknya kandungan
bakteri Escherichia coli dapat dilihat dengan menghitung tabung yang
menunjukkan reaksi positif terbentuk asam dan gas dan dibandingkan dengan tabel
MPN. Metode MPN dilakukan untuk menghitung jumlah mikroba di dalam contoh yang
berbentuk cair. Bila inkubasi 1 x 24 jam hasilnya negatif, maka dilanjutkan
dengan inkubasi 2 x 24 jam pada suhu 35oC. Jika dalam waktu 2 x 24
jam tidak terbentuk gas dalam tabung durham, dihitung sebagai hasil negatif.
Jumlah tabung yang positif dihitung pada masing-masing seri. MPN penduga dapat
dihitung dengan melihat tabel MPN (Widiyanti, 2004).
b.
Uji
tetap (confirmed test)
Hasil uji
dugaan dilanjutkan dengan uji ketetapan. Tabung yang positif terbentuk asam dan
gas terutama pada masa inkubasi 1 x 24 jam, suspensi ditanamkan pada media
Eosin Methylen Biru Agar ( EMBA ) secara aseptik dengan menggunakan jarum
inokulasi. Koloni bakteri Escherichia coli tumbuh berwarna merah
kehijauan dengan kilat metalik atau koloni berwarna merah muda dengan lendir untuk
kelompok koliform lainnya (Widiyanti, 2004).
c.
Uji
pelengkap (completed test)
Pengujian
selanjutnya dilanjutkan dengan uji kelengkapan untuk menentukan bakteri Escherichia
coli. Koloni yang berwarna pada uji ketetapan diinokulasikan ke dalam
medium kaldu laktosa dan medium agar miring Nutrient Agar ( NA ), dengan jarum
inokulasi secara aseptik. Diinkubasi pada suhu 370C selama 1 x 24
jam. Bila hasilnya positif terbentuk asam dan gas pada kaldu laktosa, maka
sampel positif mengandung bakteri Escherichia coli. Media agar miring NA
dibuat pewarnaan gram dimana bakter Escherichia coli menunjukkan gram
negatif berbentuk batang pendek. Sedangkan untuk membedakan bakteri golongan
koli dari bakteri golongan coli fekal (berasal dari tinja hewan berdarah
panas), pekerjaan dibuat duplo, dimana satu seri diinkubasi pada suhu 370C
(untuk golongan koli ) dan satu seri diinkubasi pada suhu 420C
(untuk golongan koli fekal). Bakteri golongan koli tidak dapat tumbuh dengan
baik pada suhu 420C, sedangkan golongan koli fekal dapat tumbuh dengan baik
pada suhu 420C (Widiyanti, 2004).
d.
Uji IMVIC
1)
Uji
Indole
Uji Indol, terbentuk lapisan (cincin) berwarna merah muda
pada permukaan biakan setelah penambahan reagen kovaks. Artinya bakteri ini membentuk
indol dari tryptopan sebagai sumber karbon. Asam amino triptofan merupakan
komponen asam amino yang lazim terdapat pada protein sehingga asam amino ini
dengan mudah dapat digunakan oleh mikroorganisme akibat penguraian protein. Ini
menunjukan hasil positif dan menguatkan kemungkinan adanya bakteri Escherichia
coli karena Escherichia coli merupakan bakteri yang dapat membentuk indol
dari tryptopan sebagai sumber karbonnya (Bambang, 2014).
2)
Uji
Methyle Red (MR)
Uji metil
merah akan berwarna merah pada pH 4,4 dan berwarna kuning pada pH 6,2. Pada uji
metil merah mendapatkan hasil positif karena terjadi perubahan warna menjadi
merah setelah ditambahkan indikator metal merah. Artinya, bakteri ini mengahasilkan
asam campuran (metilen glikon) dari proses fermentasi glukosa yang terkandung
dalam medium MR-VP. Terbentuknya asam campuran pada media akan menurunkan pH
sampai 5,0 atau lebih rendah, oleh karena itu bila indikator metil ditambahkan
pada biakan tersebut dengan pH serendah itu maka indikator tersebut menjadi
merah (Bambang, 2014).
3)
Uji
Voges
Proskauer (VP)
Uji VP
Hasilnya negatif, karena tidak terbentuk warna merah pada medium setelah
ditambahkan alfanaftol dan KOH, hal ini disebabkan karena bakteri tidak
menghasilkan produk netral seperti asetil metil karbinol (asetoin) dari hasil
metabolisme glukosa melainkan menghasilkan asam. Adanya kandungan asetoin pada
biakan akan menyebabkan perubahan warna merah ketika ditambahkan alfanaftol dan
KOH 40%. Uji ini negatif untuk Escherichia coli karena Escherichia
coli memfermentasikan karbohidrat menjadi produk asam dan tidak menghasilkan
produk netral seperti asetoin (Bambang, 2014).
4)
Uji
Citrat
Uji Sitrat,
uji ini dilihat kemampuan bakteri untuk menggunakan sitrat sebagai satu-satunya
sumber karbon. Jika bakteri mampu menggunakan sitrat sebagai sumberkarbonnya
maka akan menaikan pH dan mengubah warna medium biakan dari hijau menjadi biru.
Uji ini negatif untuk Escherichia coli karena Escherichia coli tidak
dapat menggunakan sitrat sebagai sumber karbon (Bambang, 2014).
Reaksi uji IMVIC terdiri dari empat tahapan, yaitu Uji
indole, Uji methyle red, Uji voges proskauer, dan Uji citrat.
a.
Uji Indole
Uji indole bertujuan mengidentifikasi
kemampuan bakteri menghasilkan indole dengan menggunakan enzim tryptophanase.
Produksi indole di dalam media dimungkinkan karena adanya tryptophan.
Bakteri yang memiliki enzim tryptophanase menghidrolisis tryptophan.
menjadi indole, piruvat dan amonia. Hal ini digunakan sebagai bagian dari
prosedur IMVIC, sebuah tes yang dirancang untuk membedakan antara anggota
keluarga Enterobacteriaceae (Nurtriana, 2016).
Tryptophan
adalah
asam amino esensial, yang teroksidasi oleh beberapa bakteri yang mengakibatkan
pembentukan indole,
asam piruvat dan amonia. Uji indole
dilakukan dengan inokulasi organisme uji ke dalam tryptophan broth, yang
mengandung tryptophan. Indole yang dihasilkan
dideteksi dengan menambahkan reagen Kovac’s ini yang menghasilkan cincin
berwarna merah. Lapisan alkohol berkonsentrasi warna merah berbentuk cincin
terdapat di bagian atas. Hasil indole
positif dinyatakan dengan adanya cincin merah hal ini disebabkan karena Indol
bereaksi dengan aldehida.
Hasil
uji indole
pada isolat bakteri E. coli adalah positif yang ditunjukan adanya cincin
merah pada bagian atas (Nurtriana, 2016).
b.
Uji
Methyle Red
Uji MR bertujuan untuk
mendeteksi kemampuan organisme dalam memproduksi dan mempertahankan produk
akhir asam stabil dari fermentasi glukosa. Beberapa bakteri menghasilkan
sejumlah besar asam dari fermentasi. Methyl Red adalah indikator pH,
yang tetap berwarna merah pada pH 4,4 atau kurang. Setelah inkubasi, indikator
pH Methyl Red ditambahkan ke dalam kultur bkteri. Methyl Red berwarna
merah pada pH di bawah 4,4 (hal ini menunjukkan hasil positif) dan kuning pada
pH di atas 6,0. Warna oranye menunjukkan pH menengah dan dianggap hasil negatif
(Nurtriana,
2016).
Hasil pengamatan untuk Uji MR pada isolat
bakteri E. coli adalah positif yang ditunjukkan dengan larutan berwarna
merah.
c.
Uji Voges Proskauer
VP
adalah tes yang digunakan untuk mendeteksi acetoin dalam kultur cair bakteri.
Pengujian ini dilakukan dengan menambahkan alpha-naftol dan kalium
hidroksida dengan kaldu Voges Proskauer yang telah diinokulasi dengan bakteri.
Warna merah cherry menunjukkan hasil yang positif, sedangkan warna
kuning-coklat menunjukkan hasil negatif. Tes ini tergantung pada pencernaan glukosa
menjadi acetylmethylcarbinol. Jika glukosa pecah, maka akan bereaksi
dengan alpha-naftol (VP reagen 1) dan kalium hidroksida (VP reagen 2)
untuk membentuk warna merah. Alpha-naftol dan kalium hidroksida adalah
bahan kimia yang mendeteksi acetoin (Nurtriana, 2016).
Asetil-metil
carbinol (acetoin) adalah perantara dalam produksi butilen
glikol. Dalam tes ini dua reagen, 40% KOH dan alpha-naftol ditambahkan
setelah inkubasi dan terkena oksigen. Jika terdapat acetoin, acetoin akan
teroksidasi dengan adanya udara dan KOH menjadi diacetyl. Diacetyl kemudian
bereaksi dengan komponen guanidin dari pepton, adanya alpha-naftol menghasilkan
warna merah. Peran alpha-naftol adalah untuk katalis dan penguat warna. Hasil
pengamatan untuk uji VP adalah negatif yang ditunjukan tidak adanya perubahan
warna terhadap larutan VP (Nurtriana, 2016).
d.
Uji Citrat
Tes
Citrat bertujuan mendeteksi kemampuan suatu organisme untuk memanfaatkan sitrat
sebagai satu-satunya sumber karbon dan energi. Bakteri diinokulasi pada medium
yang mengandung natrium sitrat dan indikator pH bromothymol biru. Media juga
mengandung garam amonium anorganik, yang digunakan sebagai satu-satunya sumber
nitrogen. Pemanfaatan sitrat melibatkan enzim citrat permease, yang memecah
sitrat menjadi oksaloasetat dan asetat. Oksaloasetat lebih lanjut dipecah
menjadi piruvat dan CO2. Produksi Na2CO3 serta NH3 dari pemanfaatan natrium
sitrat dan garam amonium masing-masing menghasilkan pH basa. Hal ini
menyebabkan perubahan warna medium dari hijau menjadi biru (Nurtriana, 2016).
Uji citrat dilakukan dengan inokulasi
mikroorganisme ke dalam media sintetis organik, "Simons Citrate
broth" apabila natrium sitrat adalah satu-satunya sumber karbon dan
energi. Bromothymol blue digunakan sebagai indikator saat asam sitrat
dimetabolisme, menghasilkan karbondioksida yang menggabungkan natrium dengan
air untuk membentuk natrium karbonat yang merupakan produk alkaline yang
menghasilkan perubahan warna dari hijau menjadi biru dan hal ini menunjukkan
tes tersebut positif (Nurtriana, 2016). Hasil pengamatan untuk uji Citrat
adalah negatif yang ditunjukan tidak adanya perubahan warna terhadap media uji
citrat.
Hasil vs Pustaka
1.
Uji Pendugaan
Escherichia coli dapat dilihat dengan menghitung tabung yang
menunjukkan reaksi positif terbentuk asam dan gas dan dibandingkan dengan tabel
MPN. Metode MPN dilakukan untuk menghitung jumlah mikroba di dalam contoh yang
berbentuk cair (Widiyanti, 2004).
Menurut hasil pengamatan uji kualitas air,
pada uji pendugaan 3 tabung 10 ml LBDS, 3 Tabung 1 ml LBSS, 3 Tabung 0,1 ml
LBSS, di dapat hanya 1 tabung 0,1 ml LBSS yang berubah warna kuning (asam) dan
bergelembung dengan interpretasi 3/100ml.
2.
Uji Penetapan
Koloni bakteri Escherichia coli tumbuh berwarna
merah kehijauan dengan kilat metalik atau koloni berwarna merah muda dengan
lendir untuk kelompok koliform lainnya. (Widiyanti, 2004). Sedangkan menurut hasil pengamatan uji kualitas air
yang dilakukan terdapat koloni typical coliform berwarna hijau metalik pada
media EMBA. Jadi, dari hasil pengamatan tidak sesuai dengan pustaka yang ada.
3.
Uji
Lengkap
Bila hasilnya positif terbentuk asam dan gas pada
kaldu laktosa, maka sampel positif mengandung bakteri Escherichia coli.
(Widiyanti, 2004). Sedangkan menurut hasil pengamatan uji kualitas air
yang dilakukan terbentuk gas di dalam tabung durham. Jadi, dari hasil
pengamatan sesuai dengan pustaka yang ada.
4. Uji IMVIC
a. Uji Indole
Uji Indole, terbentuk lapisan (cincin) berwarna merah
muda pada permukaan biakan setelah penambahan reagen kovaks (Bambang, 2014).
Sedangkan menurut pengamatan uji kualitas air yang dilakukan hasilnya negatif
karena setelah di tetesi reagen covack indole tidak terbentuk cincin berwarna
merah. Jadi, dari pengamatan tidak sesuai dengan pustaka yang ada.
b.
Uji Methyle Red
Uji methyl red akan berwarna merah pada pH 4,4 dan
berwarna kuning pada pH 6,2. Pada uji metil merah mendapatkan hasil positif
karena terjadi perubahan warna menjadi merah setelah ditambahkan indikator
metal merah (Bambang, 2014).
Menurut pengamatan uji kualitas air yang dilakukan
didapatkan hasil negatif karena setelah ditetesi dengan reagen methyl red tidak
terjadi perubahan warna merah. Jadi, dari pengamatan tidak sesuai dengan
pustaka yang ada.
c.
Uji
Voges Proskauer
Pengujian
ini dilakukan dengan menambahkan alpha-naftol dan kalium hidroksida
dengan kaldu Voges Proskauer yang telah diinokulasi dengan bakteri. Warna merah
cherry menunjukkan hasil yang positif, sedangkan warna kuning-coklat
menunjukkan hasil negatif (Nurtriana, 2016).
Menurut pengamatan uji kualitas air hasil
yang didapatkan positif
karena setelah ditetesi KOH 40% dan α-naphtole terbentuk warna merah tidak
terlalu pekat. Jadi, dari pengamatan sesuai dengan pustaka yang ada.
d.
Uji
Citrat
Jika bakteri mampu menggunakan sitrat sebagai sumber karbonnya
maka akan menaikan pH dan mengubah warna medium biakan dari hijau menjadi biru
(Bambang, 2014). Sedangkan menurut pengamatan, hasil uji simmon citrate positif
karena setelah distreak pada media simmon citrate dan di inkubasi selama 2x 24
jam pada suhu 37oC terjadi perubahan warna dari hijau menjadi biru.
Jadi, hasil pengamatan sesuai dengan pustaka yang ada.
DAFTAR
PUSTAKA
Alang, H. 2015. Deteksi Coliform Air Pdam di Beberapa Kecamatan Kota Makassar.
Prosiding Seminar Nasional Mikrobiologi
Kesehatan dan Lingkungan 2 (6) : 16-20.
Bambang, A.G. 2014. Analisis
Cemaran Bakteri Coliform dan Identifikasi Escherichia
Coli Pada Air Isi Ulang dari Depot di Kota Manado. Jurnal
Ilmiah Farmasi – UNSRAT
. 3 (3) : 325-334.
Bohra, D.L., Vikas M., dan
Chandan K.B. 2012. The Distribution
of Coliform Bacteria in Waste Water. Microbiology
Research. 3 (2) : 5-7.
Gobel, Risco B. 2008. Mikrobiologi Umum dalam Praktek.
Makassar : Universitas
Hasanuddin.
Kusnaedi. 2004. Mengolah Air
Gambut dan Air Kotor Untuk Air Minum. Jakarta : Puspa Swara.
Morintoh, P., Jimmy F.R., dan Fransiska L.
2015. Analisis Perbedaan Uji Kualitas
Air Sumur di Daerah Dataran Tinggi Kota Tomohon dan Dataran Rendah Kota Manado
Berdasarkan Parameter Fisika. Jurnal e-Biomedik (eBm). 3 (1) : 424-429.
Nurtriana, V. Sri D., dan Sri S.D. 2016. Pola Resistensi Escherichia Coli
terhadap
Antibiotik pada Penderita Diare Anak di RSUD Kota Semarang. Semarang : tidak
diterbitkan.
Pelczar, M.J. dan Chan
E.C.S. 1988. Dasar-Dasar Mikrobiologi 2.
Jakarta: UI Press.
Ramona, Y., R. Kawuri, dan I.B.G. Darmayasa.
2007. Penuntun Praktikum Mikrobiologi
Umum Program Studi Farmasi. Bukit Jimbaran : FMIPA UNUD.
Suriawiria, U.
1985. Mikrobiologi Dasar Dalam Praktek.
Jakarta : Gramedia.
Widiyanti,
N.L.P.M. dan Ristiati N.P. 2004. Analisis Kualitatif Bakteri
Koliform Pada Depo Air Minum Isi Ulang di Kota Singaraja Bali. Jurnal
Ekologi Kesehatan.
3 (1) : 64 – 73.







0 komentar:
Posting Komentar