UJI
SENSITIVITAS
Disusun oleh :
Annisa
Fildzah Defanty (I1A015001)
Missi
Suci (I1A015038)
Hanawindra
S (I1A015051)
Ayu
Pangesti (I1A015071)
Nur
Fauzan Azhima (I1A015093)
M.
Fajri Adhianto (I1A015107)
Fita
Aulia Ningtyas (I1A015111)
La
Re Nande Sangraena (I1A015123)
Kelompok : 1
Rombongan :
II
Assisten : Febyana Noor Fadlilah
Niken Mawari Pangestika
KEMENTERIAN
RISET, TEKNOLOGI, DAN PENDIDIKAN TINGGI
UNIVERSITAS JENDRAL SOEDIRMAN
FAKULTAS ILMU-ILMU KESEHATAN
JURUSAN KESEHATAN MASYARAKAT
PURWOKERTO
2016
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Zat antimikroba
adalah istilah umum yang mengacu pada setiap senyawa yang termasuk antibiotik,
antimikroba makanan, pembersih, disinfektan, dan zat lainnya yang bertindak
terhadap mikroorganisme. Zat
antimikroba dapat bersifat membunuh mikroorganisme (microbidical) atau menghambat pertumbuhan mikroorganisme (mikrobiostatic).
Obat
antimikroba
yang ideal memperlihatkan toksisitas selektif. Istilah ini berarti bahwa obat
ini merugikan parasit tanpa merugikan inang. Dalam banyak hal toksisitas
selektif bersifat relatif daripada absolut, berarti bahwa suatu obat dapat
merusak parasit dalam konsentrasi yang dapat ditoleransi oleh inang (Katzung,
1998).
Disinfektan
adalah agen kimiawi kuat yang menghambat atau membunuh mikroorganisme (Katzung,
2007). Desinfektan biasanya menyatakan suatu zat yang membunuh mikroorganisme
di lingkungan benda-benda mati (Katzung, 1998). Disinfeksi mencegah infeksi
dengan menurunkan jumlah organisme yang berpotensi infektif melalui eradikasi,
pemindahan atau pengenceran organisme tersebut (Katzung, 2007).
Antibiotik secara sempit diartikan sebagai bahan atau zat kimia yang secara alamiah dihasilkan oleh organisme hidup yang mampu mengahambat pertumbuhan organisme lain (Gould dan Brooker, 2003). Istilah awal antibiotik yang digunakan adalah antibiosis, yang berarti substansi yang dapat menghambat pertumbuhan mikroorganisme hidup yang lain, dan berasal dari mikroorganisme. Namun pada perkembangannya, antibiosis disebut sebagai antibiotik dan istilah ini tidak hanya terbatas untuk substansi yang berasal dari mikroorganisme, melainkan semua substansi yang diketahui memiliki kemampuan untuk menghalangi pertumbuhan organisme lain khususnya mikroorganisme (Pratiwi, 2008). Antiseptik adalah agen disinfektan bertoksisitas rendah terhadap spora pejamu sehingga dapat langsung digunakan pada kulit, membran mukosa, atau luka (Katzung, 2007).
Antibiotik secara sempit diartikan sebagai bahan atau zat kimia yang secara alamiah dihasilkan oleh organisme hidup yang mampu mengahambat pertumbuhan organisme lain (Gould dan Brooker, 2003). Istilah awal antibiotik yang digunakan adalah antibiosis, yang berarti substansi yang dapat menghambat pertumbuhan mikroorganisme hidup yang lain, dan berasal dari mikroorganisme. Namun pada perkembangannya, antibiosis disebut sebagai antibiotik dan istilah ini tidak hanya terbatas untuk substansi yang berasal dari mikroorganisme, melainkan semua substansi yang diketahui memiliki kemampuan untuk menghalangi pertumbuhan organisme lain khususnya mikroorganisme (Pratiwi, 2008). Antiseptik adalah agen disinfektan bertoksisitas rendah terhadap spora pejamu sehingga dapat langsung digunakan pada kulit, membran mukosa, atau luka (Katzung, 2007).
B.
Tujuan
1.
Mengetahui
cara pengujian zat antimikroba yang meliputi uji disinfektan, uji antibiotik,
dan uji antiseptik.
2.
Melakukan uji kepekaan bakteri terhadap antibiotik
untuk mengetahui batas kepekaan sensivitas bakteri.
BAB II
MATERI DAN METODE
A.
Materi
Alat-alat yang digunakan dalam praktikum uji
sensitivitas adalah cutton buds, pembakar
spirtus, cawan petri, pinset, tabung reaksi berisi biakan bakteri, kertas
cakram yang sudah diberi antiobotik. Bahan–bahan yang digunakan dalam praktikum uji
sensitivitas adalah pepton water,
disinfektan yang berupa pembersih kaca.
BAB III
PEMBAHASAN
PEMBAHASAN
A. Pembahasan
Zat antimikroba
adalah istilah umum yang mengacu pada setiap senyawa yang termasuk antibiotik,
antimikroba makanan, pembersih, disinfektan, dan zat lainnya yang bertindak
terhadap mikroorganisme. Disinfektan adalah agen kimiawi kuat yang menghambat
atau membunuh mikroorganisme (Katzung, 2007). Antibiotik secara sempit diartikan sebagai bahan atau
zat kimia yang secara alamiah dihasilkan oleh organisme hidup yang mampu
mengahambat pertumbuhan organisme lain (Gould dan Brooker, 2000).
Antiseptik adalah agen disinfektan bertoksisitas rendah terhadap spora pejamu
sehingga dapat langsung digunakan pada kulit, membran mukosa, atau luka
(Katzung, 2007).
Antibiotik dapat
diklasifikasikan berdasarkan spektrum atau kisaran kerja, mekanisme aksi,
strain penghasil cara biosintesis maupun berdasarkan struktur biokimianya.
Berdasarkan spektrum atau kisaran kerjanya antibiotik dapat dibedakan menjadi antibiotik
berspektrum sempit (narrow spectrum)
dan antibiotik spektrum luas (broad
spectrum). Antibiotik berspektrum sempit hanya mampu menghambat segolongan
jenis bakteri saja, contohnya hanya mampu menghambat atau membunuh bakteri Gram
negatif saja atau Gram positif saja. Sedangkan antibiotik berspektrum luas dapat menghambat atau membunuh
bakteri dari golongan Gram positif maupun Gram negatif (Pratiwi, 2008).
Berdasarkan mekanisme aksinya,
antibiotik dibedakan menjadi lima, yaitu antibiotik dengan mekanisme
penghambatan sintesis dinding sel, perusakan membran plasma, penghambatan
sintesis protein, penghambatan sintesis asam nukleat, dan penghambatan sintesis
metabolit esensial (Pratiwi, 2008).
Menurut Kee (1996), mekanisme kerja antibiotik antara lain:
1. Menghambat sintesis dinding sel
Penghambatan sintesis dinding sel yang memberikan efek
memerah enzim dinding sel dan penghambatan enzim sintesis dinding sel, contoh: Penisilin, Vankomisin, Sefalosporin.
2. Merusak permeabilitas membran sel
Perubahan permeabilitas membran yang berefek
meningkatkan permeabilitas membran dan hilangnya substansi setelah menyebabkan
sel menjadi lisis, contohnya Nistatin, Kalistin, Amfoterisin B.
3.
Mengganggu metabolisme sel
Mengangggu
tahap-tahap metabolisme dalam sel yaitu mengganggu struktur RNA atau DNA
bakteri dengan menghambat suatu enzim yang memungkinkan trankripsi (RNA) atau
replikasi (DNA). Antibiotik yang termasuk diantaranya trimetropin dan
sulfonamid.
4. Mengganggu sintesis protein
(proses translasi)
Penghambatan
sintesis protein yang berefek mengganggu sintesis protein tanpa mempengaruhi sel-sel
normal contohnya tetrasilin, eritromisin, aminoglikosida.
Ada beberapa bakteri menunjukkan efek yang berbeda pada
antibiotik yang berbeda, beberapa tahan, ada yang sensitif dan cukup sensitif
terhadap antibiotik. Ada antibiotik yang
efektif terhadap mikroorganisme, tetapi kenyataannya tidak menghambat semua mikroorganisme.
beberapa mikroorganisme tahan alami,
sementara beberapa resistensi baik dengan mengubah permeabilitas, atau dengan
memproduksi enzim yang menginaktivasi
antibiotik atau dengan memodifikasi sasaran situs atau dengan plasmid dimediasi resisten (Dhanaraj, 2012)
Pembagian antibiotik menurut
Gould dan Brooker(2003), dapat diklasifikasikan sesuai jenis bakteri kepada
mana obat tersebut bekerja:
1. Obat
yang terutama aktif terhadap organisme gram-positif, misalnya penisilin,
eritomisin, dan limkomisin,
2. Obat
yang terutama aktif terhadap organisme gram-negatif, misalnya polimiksin dan
asam nalidiksat,
3. Antibiotik spektrum-luas yang aktif
terhadap organisme gram-negatif dan gram-posistif, misalnya tetrasiklin,
kloromfenikol, ampisilin, sefalosporin, dan sulfonamid.
Mikroorganisme penghasil antibiotik (Pratiwi, 2008)
Antibiotik
|
Organisme
penghasil
|
Aktivitas
|
Tempat
aksi
|
Penisilin
|
Penicillium chrysogenum
|
Bakteri Gram positif
|
Sintesis dinding
|
Sefalosporin
|
Cephalosporium acremonium
|
Spektrum luas
|
Sintesis dinding
|
Griseofulvin
|
Penichilium griseofulvum
|
Fungi demartofitik
|
Mikrotubul
|
Basitrasin
|
Bacillus subtilis
|
Bakteri Gram positif
|
Sintetis dinding
|
Polimiksin B
|
Bacillus polymxa
|
Bakteri Gram negatif
|
Membran sel
|
Amfoterisin B
|
Streptomyces nodosus
|
Fungi
|
Membran sel
|
Eritromisin
|
Streptomyces erythreus
|
Bakteri Gram positif
|
Sintesis protein
|
Neomisin
|
Streptomyces fradiae
|
Spektrum luas
|
Sintesis protein
|
Streptomisin
|
Streptomyces griseus
|
Bakteri Gram negatif
|
Sintesis protein
|
Tertrasiklin
|
Streptomyces rimosus
|
Spektrum luas
|
Sintesis protein
|
Vankomisin
|
Streptomyces orientalis
|
Bakteri Gram positif
|
Sintesis protein
|
Gentamisin
|
Micromonospora purpurea
|
Spektrum luas
|
Sintesis protein
|
Rifamisin
|
Streptomyces mediterranei
|
Tuberkulosis
|
Sintesis protein
|
DAFTAR PUSTAKA
Katzung, Betram G. 2007. Farmakologi Dasar dan Klinik Edisi 10. Jakarta : EGC.
Katzung, Betram G. 1998. Farmakologi Dasar dan Klinik Edisi 6.
Jakarta : EGC
Kee, Jaycel dan
Hayer R. 1996. Farmakologi Pendekatan
Proses Keperawatan. EGC : Jakarta.
Pratiwi, Sylvia T. 2008. Mikrobiologi Farmasi. Jakarta : Erlangga.
Gould, Dinah dan Christine Brooker. 2003. Mikrobiologi Terapan Untuk Perawat. EGC
: Jakarta.
Dhanaraj. B, Nakade. 2012.
Antibiotic sensitivity of common Bacterial Pathogens against selected Quinolones.
ISCA Journal of Biological Sciences. Vol.
1(1):77-79.
Hemen,
J.T., John, J.T., Ambo, E.E,
Ekam, V.S, Odey, M.O,Fila, W.A.. 2012. Multi-Antibiotic Resistance of Some Gram Nrgative Bacterial Isolates
from Poultry Litters of Selected Farms in Benue State. IJST. Vol. 2 (8) :
545.







0 komentar:
Posting Komentar