PEMERIKSAAN
TINJA DENGAN METODE KUALITATIF APUNG DAN METODE HARADA MORI
Disusun Oleh :
Annisa
Fildzah Defanty
I1A015001
LAPORAN PRAKTIKUM PARASITOLOGI
KEMENTERIAN
RISET, TEKNOLOGI, DAN PENDIDIKAN TINGGI
FAKULTAS
ILMU-ILMU KESEHATAN
JURUSAN
KESEHATAN MASYARAKAT
PURWOKERTO
2016
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Cacing merupakan salah satu
parasit yang menghinggapi manusia. Penyakit infeksi yang disebabkan oleh cacing
masih tetap ada dan masih tinggi prevalensinya, terutama di daerah yang
beriklim tropis seperti Indonesia. Hal ini merupakan masalah kesehatan
masyarakat yang masih perlu ditangani. Penyakit infeksi yang disebabkan cacing
itu dapat di karenakan di daerah tropis khususnya Indonesia berada dalam posisi
geografis dengan temperatur serta kelembaban yang cocok untuk berkembangnya
cacing dengan baik (Kadarsan, 2005).
Dalam identifikasi infeksinya perlu adanya pemeriksaan, baik dalam keadaan cacing yang masih
hidup ataupun yang telah dipulas. Cacing yang akan diperiksa tergantung dari
jenis parasitnya. Untuk cacing atau protozoa usus akan dilakukan pemeriksaan
melalui feses atau tinja (Kadarsan, 2005).
Pemeriksaan feses dimaksudkan
untuk mengetahui ada tidaknya telur cacing ataupun larva yang infektif.
Pemeriksaan feses ini juga di maksudkan untuk mendiagnosa tingkat infeksi
cacing parasit usus pada orang yang di periksa fesesnya. Prinsip dasar untuk
diagnosis infeksi parasit adalah riwayat yang cermat dari pasien. Teknik
diagnostik merupakan salah satu aspek yang penting untuk mengetahui adanya
infeksi penyakit cacing, yang dapat ditegakkan dengan cara melacak dan mengenal
stadium parasit yang ditemukan. Sebagian besar infeksi dengan parasit
berlangsung tanpa gejala atau menimbulkan gejala ringan. Oleh sebab itu pemeriksaan laboratorium
sangat dibutuhkan karena diagnosis yang hanya berdasarkan pada gejala klinik
kurang dapat dipastikan (Gandahusada, Pribadi
dan Herry, 2000).
Pemeriksaan telur cacing dari tinja apat dilakukan untuk mendapatkan hasil kualitatif dan kuantitatif (disebut sebagai cara kualitatif dan cara kuantitatif). Kualitatif dapat dilakukan dengan beberapa cara tergantung pada keperluannya, yaitu pemeriksaan secara natif (direct slide), pemeriksaan dengan metode apung (flotation methode), modifikasi metode merthiolat iodine formaldehyde (MIF), metode selotip (cellotape methode), metode konsentrasi, teknik sediaan tebal (cellophane covered thick smear technic), teknik kato, dan metode sedimentasi formol ether (Ritchie) (Natadisastra, 2009).
Kuantitatif dikenal 2 metode pemeriksaan, yaitu metode stoll dan metode kato katz. Pemeriksaan larva dilakukan dengan dua cara yaitu metode pembiakan larva menurut Baermann dan modifikasi Harada Mori. Preparat permanen tergantung yang diperiksa apakah trematoda dan cestoidea, nematoda atau telur, memiliki cara yang berbeda (Natadisastra, 2009) .
Pemeriksaan telur cacing dari tinja apat dilakukan untuk mendapatkan hasil kualitatif dan kuantitatif (disebut sebagai cara kualitatif dan cara kuantitatif). Kualitatif dapat dilakukan dengan beberapa cara tergantung pada keperluannya, yaitu pemeriksaan secara natif (direct slide), pemeriksaan dengan metode apung (flotation methode), modifikasi metode merthiolat iodine formaldehyde (MIF), metode selotip (cellotape methode), metode konsentrasi, teknik sediaan tebal (cellophane covered thick smear technic), teknik kato, dan metode sedimentasi formol ether (Ritchie) (Natadisastra, 2009).
Kuantitatif dikenal 2 metode pemeriksaan, yaitu metode stoll dan metode kato katz. Pemeriksaan larva dilakukan dengan dua cara yaitu metode pembiakan larva menurut Baermann dan modifikasi Harada Mori. Preparat permanen tergantung yang diperiksa apakah trematoda dan cestoidea, nematoda atau telur, memiliki cara yang berbeda (Natadisastra, 2009) .
B.
Tujuan
1. Mengetahui pemeriksaan feses dengan
metode apung (dengan dan tanpa disentrifugasi) serta metode Harada Mori.
2. Mengetahui adanya telur dan larva cacing
parasit pada feses yang diperiksa.
3. Menentukan dan mengidentifikasi larva
cacing pada feses yang diperiksa dengan metode Harada Mori.
BAB II
METODE
A. Alat dan Bahan
Metode
Apung Tanpa Disentrifugasi
·
Object
glass
·
Cover
glass
·
Tabung reaksi
·
Rak tabung
·
Jarum ose
·
Lidi
·
Penyaring teh
· Beaker
glass
· Mikroskop
· 10 gr feses
· 200 ml NaCl jenuh (33%)
Metode
Apung Dengan Disentrifugasi
·
Object
glass
·
Cover glass
·
Penyaring
teh
·
Tabung
reaksi
·
Beaker
glass
·
Lidi
· Jarum ose
· Mikroskop
· Tabung sentrifugasi
· Sentrifugator
· Feses
· Larutan
NaCl jenuh (33%)
Metode
Modifikasi Harada Mori
·
Kantung plastik ukuran 30x200 mm
·
Kertas saring ukuran 3x15 cm
·
Lidi
·
Akuades
· Beaker glass
· Pipet
· Object glass
· Cover glass
· Mikroskop
· Gunting
B. Cara Kerja
Metode
Apung Tanpa Disentrifugasi
1.
10 gr feses dicampur dengan 200 mL NaCl
jenuh (33%) kemudian aduk hingga larut.
2.
Lalu saring larutan dengan penyaring
teh.
3.
Tuangkan larutan ke dalam tabung reaksi
sampai penuh (cembung), tetapi jangan sampai tumpah.
4.
Diamkan 5-10 menit, lalu tempelkan cover glass pada sisi cembung larutan.
5.
Tempelkan cover glass ke object glass.
6. Kemudian
amati di mikroskop.
Metode
Apung Dengan Disentrifugasi
1. Campuran feses dan NCl jenuh disaring
dengan penyaring teh dan dituangkan ke dalam tabung disentrifugasi.
2. Tabung tersebut diputar pada alat
sentrifugasi selama 5 menit dengan putaran 10x/per menit.
3.
Ambil larutan bagian permukaan dengan
jarum ose dan taruh pada object glass,
lalu tutup dengan cover glass.
4.
Amati di bawah mikroskop.
Metode
Harada Mori
1. Isi plastik dengan akuades 5 mL.
2. Oleskan feses pada kertas saring sampai
mengisi 1/3 bagian tengahnya dengan lidi bamboo, kemudian lipat kertas saring
membujur.
3. Masukkan kertas saring ke dalam plastik
dengan ujung kertas menyentuh permukaan akuades.
4.
Tulis nama penderita, tanggal, dan
kelompok
5.
Jepit dan gantungkan plastik dan simpan
pada suhu kamar selama 7 hari.
6.
Gunting ujung plastik sampel.
7.
Tuang air ke beaker glass.
8.
Ambil 3 tetes air dengan pipet dan taruh
di object glass, lalu tutup dengan cover glass.
9.
Amati dengan mikroskop.
BAB
III
HASIL
DAN PEMBAHASAN
A. Hasil
1.
Pada pemeriksaan feses ini, sebelumnya telah
diambil sampel feses dari anak kelas 2 SD Negeri 2 Karangwangkal, Purwokerto Utara, Banyumas dengan data tertera
di bawah ini :
Nama : Aufan Setiawan
Umur : 8 tahun
Alamat : Karangwangkal RT 06 RW 02
Metode
|
Hasil Pengamatan
|
|
Nama Cacing
|
Telur (+/-)
|
|
Metode Apung tanpa Disentrifugasi
|
Ascaris
lumbricoides
|
+
(Gambar terlampir)
|
Trichuris
trichiura
|
-
|
|
Cacing
tambang
|
-
|
|
Strongyloides
stercoralis
|
-
|
|
Modifikasi Harada Mori
|
Trichuris
trichiura
|
-
|
Cacing tambang
|
-
|
|
Strongyloides
stercoralis
|
-
|
|
2.
Pada pemeriksaan feses ini, sebelumnya telah
diambil sampel feses dari anak kelas 2 SD Negeri 2 Karangwangkal, Purwokerto Utara, Banyumas dengan data tertera
di bawah ini :
Nama : Cantika Bunga Kusuma Wardani
Umur : 8,5 tahun
Alamat : Jl. Djaelani RT 02/03
Metode
|
Hasil Pengamatan
|
|
Nama Cacing
|
Telur (+/-)
|
|
Metode Apung dengan
Disentrifugasi
|
Ascaris
lumbricoides
|
-
|
Trichuris
trichiura
|
-
|
|
Cacing
tambang
|
-
|
|
Strongyloides
stercoralis
|
-
|
|
Metode Apung tanpa Disentrifugasi
|
Ascaris
lumbricoides
|
-
|
Trichuris
trichiura
|
-
|
|
Cacing
tambang
|
-
|
|
Strongyloides
stercoralis
|
-
|
|
Modifikasi Harada Mori
|
Trichuris
trichiura
|
-
|
Cacing tambang
|
-
|
|
Strongyloides
stercoralis
|
-
|
|
3.
Pada pemeriksaan feses ini, sebelumnya telah
diambil sampel feses dari anak kelas 2 SD Negeri 2 Karangwangkal, Purwokerto Utara, Banyumas dengan data tertera
di bawah ini :
Nama : Muhammad Nur Fawuza
Umur : 9 tahun
Alamat : Jl. Djaelani Karangwangkal
Metode
|
Hasil Pengamatan
|
|
Nama Cacing
|
Telur (+/-)
|
|
Metode Apung dengan
Disentrifugasi
|
Ascaris
lumbricoides
|
-
|
Trichuris
trichiura
|
-
|
|
Cacing
tambang
|
-
|
|
Strongyloides
stercoralis
|
-
|
|
Metode Apung tanpa Disentrifugasi
|
Ascaris
lumbricoides
|
-
|
Trichuris
trichiura
|
-
|
|
Cacing
tambang
|
-
|
|
Strongyloides
stercoralis
|
-
|
|
Modifikasi Harada Mori
|
Trichuris
trichiura
|
-
|
Cacing tambang
|
-
|
|
Strongyloides
stercoralis
|
-
|
|
B. Pembahasan
Metode yang digunakan dalam pemeriksaan
tinja adalah metode apung dan metode harada mori. Prinsip kerja metode apung
berdasarkan berat jenis telur-telur yang lebih ringan daripada berat jenis
larutan yang digunakan sehingga telur terapung dipermukaan, dan juga untuk
memisahkan partikel-partikel yang besar yang terdapat dalam tinja. Pemeriksaan metode
apung menggunakan larutan garam jenuh direkomendasikan untuk pendeteksian telur Ancylostoma duodenale dan
Necator americanus (metode terbaik), Ascaris lumbricoides, Hymenolepis nana,
Taenia spp.,
dan Trichuris trichiura. Metode
apung tidak sesuai digunakan untuk mendeteksi trematoda dan Schistosoma spp (Maharani, 2011).
Metode harada mori adalah uji yang
digunakan untuk mendeteksi infeksi cacing tambang, Strongyloides stercoralis, Trichostrongylus spp. Prinsip kerja metode harada mori adalah dengan mengoleskan feses
pada sepertiga bagian dalam kertas saringan kemudian dimasukkan kedalam tabung
kerucut sentrifugal yang berisi air sampai menyentuh ujung kertas saringan.
Tabung kerucut sentrifugal disimpan pada suhu kamar selama waktu perkembangan
larva dan jatuh dalam air pada 7 sampai 10 hari (Paniker, 2013).
Kelebihan metode apung dengan sentrifugasi
adalah dapat digunakan untuk infeksi ringan dan berat, kotoran feses yang
melekat pada telur dapat terlepas dengan adanya proses sentrifugasi sehingga dapat
terlihat jelas. Sedangkan kekurangan metode apung dengan sentrifugasi adalah
membutuhkan waktu yang lama dan membutuhkan ketelitian tinggi agar telur di
permukaan larutan tidak turun lagi.
Kelebihan metode apung tanpa sentrifugasi
adalah dapat digunakan untuk infeksi ringan dan berat, telur dapat terlihat
dengan jelas. Sedangkan kekurangan metode apung tanpa sentrifugasi adalah
menggunakan banyak feses, membutuhkan waktu yang lama, dan membutuhkaan
ketelitian tinggi agar telur di permukaan larutan tidak turun lagi.
Kelebihan metode harada mori adalah
memiliki sifat sensitive, sederhana, ekonomis, dan mudah dalam melakukannya (Shahid,
2010). Sedangkan kekurangannya adalah larva yang hidup dapat
menyebabkan pathogen, larva dapat menyebabkan infeksi sehingga harus dilakukan
dengan hati-hati (Sehgal, 2003).
Pada pemeriksaan feses ini, kemungkinan
yang dapat ditemukan adalah telur Ascaris lumbricoides, telur Trichiuris trichiura, telur cacing tambang, dan larva rhabditiform Strongyloides stercoralis serta dapat juga ditemukan cacing dewasa.
Dilihat dari tabel pemeriksaan ketiga sampel, ada satu sampel yang
menunjukkan hasil positif, yaitu sampel pemeriksaan feses atas nama Aufan.
Diduga telur cacing yang ditemukan merupakan telur cacing Ascaris
Lumbricoides. Terjadi perbedaan hasil antara metode apung dengan
menggunakan sentrifugasi dan tanpa sentrifugasi. Pada metode apung dengan
sentrifugasi kemungkinan telur menempel pada object glass lebih besar
dibandingkan dengan metode apung tanpa sentrifugasi.
Berdasarkan kuesioner yang telah dipertanyakan, anak dengan hasil
pemeriksaannya negatif mempunyai pola hidup yang sudah baik karena perhatian
orang tua yang juga baik. Sedangkan anak dengan hasil pemeriksaan positif kemungkinan
mempunyai pola hidup yang kurang baik.
Hasil negative pada metode Harada Mori yang dilaksanakan
dapat disebabkan oleh kesalahan dalam melakukan cara kerja, diduga kertas
saringan tidak menempel pada air sehingga larva tidak turun dan tidak dapat
ditemukan menggunakan mikroskop. Harada Mori merupakan metode yang paling efektif untuk
mendeteksi cacing tambang. Terbukti bahwa metode Harada Mori memiliki
ketelitian lebih dibandingkan dengan metode pemeriksaan tinja yang lain dalam
mendeteksi cacing tambang. Jika dilakukan dengan benar, metode ini sensitif,
sederhana, ekonomis dan mudah dilakukan (Shahid, 2010).
Penyakit parasit pencernaan umumnya lebih banyak terjadi pada
anak-anak usia sekolah dasar. Pemeriksaan sampel menggunakan metode pemeriksaan
langsung dengan mikroskop untuk mengetahui sampel yang positif mengandung telur
cacing. Infeksi cacing pencernaan khususnya golongan nematoda
dan cestoda merupakan masalah kesehatan yang memerlukan penanganan serius, terutama
di daerah tropis karena prevalensi yang cukup tinggi. Berdasarkan media penularannya
cacing pencernaan terbagi 2 golongan, yaitu cacing Soil Transmitted Helminth
(STH) yang media penularannya melalui tanah dan non STH yang
media penularannya tidak melalui tanah. Angka prevalensi dan intensitas infeksi
biasanya paling tinggi pada anak antara usia 3 dan 8 tahun (Hairani dan Annida,
2012).
Soil Transmitted Helminths (STH) adalah cacing golongan Nematoda yang
penularannya melalui perantara tanah. STH yang paling banyak menginfeksi
manusia adalah cacing gelang (Aszaris
lumbricoides), cacing cambuk (Trichuris
trichiura) dan cacing tambang (Necator
americanus dan Ancylostoma duodenale)
(Handayani et al, 2015).
Infeksi STHs masih
menjadi masalah kesehatan di seluruh dunia. Sekitar lebih dari satu milyar
orang telah terinfeksi STHs. Infeksi STHs banyak ditemukan pada masyarakat yang
bertempat tinggal di negara berkembang khususnya negara tropik dan subtropik.
Tempat yang sangat cocok untuk berkembangnya STHs adalah di tanah yang liat,
lembab, dan teduh, terutama di daerah pertanian dan perkebunan, seperti di
Indonesia (Handayani et al, 2015).
Cacing tidak hanya menyerang kelompok rawan seperti usia anak-anak
sekolah tetapi dapat menyerang semua kelompok umur dan jenis kelamin. Efek yang
paling serius ditemukan pada anak usia sekolah, karena dapat mengakibatkan menurunnya
daya tahan tubuh dan terhambatnya tumbuh kembang anak. 2-3 Cacing mengambil
sari makanan yang penting bagi tubuh, antara lain karbohidrat dan zat besi.
Diare, badan kurus, kekurangan cairan (dehidrasi), anemia serta badan lemas,
lesu, lubang anus terasa gatal dan mata sering berkedip-kedip merupakan gejala awal
yang ditimbulkan oleh adanya infeksi cacing. Kejang-kejang pada seluruh anggota
gerak, perut membuncit dan keras akibat adanya timbunan gas (kembung),
merupakan tanda bahwa racun telah menyebar ke seluruh tubuh. Cacing T.
Trichiura dapat menimbulkan pendarahan kecil yang dapat mengakibatkan
anemia. Jika ditinjau kerugian dari segi ekonomi, satu ekor cacing A.
lumbricoides dapat menyebabkan kehilangan karbohidrat sebanyak 0,14 gr/hari
(Hairani dan Annida, 2012).
Transmisi A.
lumbricoides dan T. trichiura dapat terjadi secara langsung karena
tertelan larva infektif yang melekat di jari tangan pada waktu anak menghisap
jari atau tidak mencuci tangan sebelum makan. Kejadian ini sering terjadi
terutama pada anak yang sering bermain dan kontak dengan tanah yang tercemar
telur cacing. Secara tidak langsung transmisi juga dapat terjadi bila tinja manusia
yang mengandung telur infektif terdapat di tanah, melekat pada badan/kaki lalat
dan kecoa yang kemudian serangga tersebut mencemari makanan yang tidak tertutup
(Rahayu dan Ramdani, 2013)
Infeksi dengan A. lumbricoides, T.
trichiura dan hookworm sering ditemukan pada anak usia 5–10 tahun.
Gangguan absorbsi zat gizi dan anemia yang disebabkan oleh cacing tersebut
berdampak terhadap gangguan mental, terhambatnya pertumbuhan fisik, gangguan
kognitif dan kemunduran intelektual pada anak-anak, sehingga menurunkan
kualitas sumber daya manusia. Cacing A.
lumbricoides bersifat kosmopolit, terutama ditemukan pada daerah panas dan
lembab. Daerah penyebarannya sama dengan T. tichiura prevalensinya tinggi pada keadaan sosial
ekonomi yang rendah. Biasanya askariasis menyebar pada keadaan lingkungan yang
buruk, banyak lalat yang berperan sebagai vektor, tidak memperhatikan
kebersihan makan/minuman. Bermain di tanah, tidak cuci tangan sebelum makan,
BAB di sembarang tempat, bahkan pada daerah tertentu yang memanfaatkan tinja
sebagai pupuk tanaman merupakan faktor risiko askariasis. Penanggulangan terhadap permasalahan gizi
yang disebabkan oleh kecacingan adalah melakukan pengobatan pada sumber
infeksi, selain memperbaiki lingkungan, mengurangi populasi lalat/kecoa,
menjaga kebersihan makan/minuman, pemakaian jamban keluarga, anak-anak dilarang
bermain di tanah, menggunting kuku secara teratur, serta membiasakan mencuci
tangan sebelum makan (Rahayu dan
Ramdani, 2013).
Siklus hidup cacing
ini yang sangat cocok di daerah beriklim tropis menyebabkan penularannya menjadi
sangat baik. Cacing betina dapat bertelur sampai 200.000 butir dalam sehari1,
jumlah ini jauh lebih besar dibandingkan spesies cacing lainnya, sehingga
kesempatan untuk menginfeksi manusia juga lebih tinggi. Selain itu telur Ascaris
dapat bertahan hingga lebih dari 100 hari. Telur cacing ini dapat tertelan
oleh manusia melalui makanan yang terkontaminasi oleh telur cacing atau tangan
yang tidak dicuci sebelum makan. Anak-anak sekolah pada umumnya suka membeli
jajanan yang tidak disajikan secara higienis (tidak ditutup), yang kemungkinan
besar telah terkontaminasi telur cacing. Keadaan ini semakin diperparah dengan kondisi
lingkungan yang tidak baik, kurangnya kesadaran untuk mencuci tangan sebelum
makan, masyarakat perkampungan yang masih buang air besar di sembarang tempat
serta adanya pemakaian tinja sebagai pupuk (Hairani dan Annida, 2012).
Cara penularan
cacing ini dapat terjadi pada manusia melalui penetrasi larva filariform yang
terdapat di tanah ke dalam kulit, kemudian larva menuju saluran pencernaan melalui
aliran darah. Anak-anak yang sering bermain di tanah tanpa mengenakan alas kaki
sangat rentan terinfeksi cacing ini (Hairani dan Annida, 2012).
Cacing E. vermularis merupakan golongan non STH.
Berbeda dengan cacing golongan STH, cacing ini dapat menular melalui udara,
telurnya dapat melekat pada pakaian, sprei, bantal, dan dapat diterbangkan oleh
angin sehingga dalam satu keluarga yang tinggal serumah dapat terinfeksi.
Cacing ini akan bergerak menuju anus untuk meletakkan telurnya, hal ini
menyebabkan rasa gatal pada anus. Anak-anak yang merasa gatal sering menggaruk
anusnya dengan tangan, sehingga telur-telur cacing yang ada di anus akan menempel
di tangan, apabila anak ini tidak segera mencuci tangan dan memegang
benda-benda di rumah yang juga digunakan oleh orang lain, maka akan terjadi
penularan cacing ini pada orang lain. Kemungkinan tingkat kesadaran keluarga
anak-anak tersebut dalam menjaga kebersihan rumah sangat rendah, sehingga
cacing ini dapat berkembang biak dan menular dengan mudah (Hairani dan Annida, 2012).
Penyebaran
cacing H. nana kosmopolit, lebih
banyak terdapat di daerah dengan iklim panas. Cacing ini merupakan satu-satunya
cacing pita manusia yang tidak
memerlukan hospes perantara. Selain manusia, tikus juga bisa menjadi hospesnya.
Infeksi kebanyakan terjadi secara langsung dari tangan ke mulut. Kontaminasi
dengan tinja tikus perlu mendapat perhatian. Lingkungan yang banyak terdapat
tikus dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya infeksi, karena tinja tikus
yang mengandung telur cacing dapat mengkontaminasi makanan manusia (Hairani dan
Annida, 2012).
DAFTAR PUSTAKA
Gandahusada, S. W. Pribadi dan D. I. Herry. 2000. Parasitologi Kedokteran.
Fakultas Kedokteran UI : Jakarta.
Hairani, Budi dan Annida. 2012. “Intestinal parasite incidence on elementary school
students in town and village at Tanahs Bumbu District”. Jurnal Buski Jurnal Epidemiologi dan Penyakit Bersumber Binatang.
Volume 4 (2) : 102-108.
Handayani,
Dwi, Muhaimin Ramdja dan Indah Fitri Nurdianthi. 2015. “Hubungan Infeksi Soil Transmitted Helminths (STH) dengan
Prestasi Belajar pada Siswa SDN 169 di Kelurahan Gandus Kecamatan Gandus Kota
Palembang”. Majalah Kedokteran Sriwijaya.
Volume 47 (2) : 91-96.
Handayani,
Dwi, Muhaimin Ramdja dan Indah Fitri Nurdianthi. 2015. “The Association of Nail
and Vended Food Hygiene with Soil Transmitted Helminths Infection in Students
of SDN 169 Kelurahan Gandus Kecamatan Gandus Palembang”. Bandung International Scientific Meeting on Parasitology & Tropical
Diseases. Volume 9 : 77-83.
Kadarsan, S. 2005. Binatang Parasit. Bogor: Lembaga Biologi Nasional-LIPI.
Maharani, Anggitha Putri, Liena Sofiana.
2011. Validitas Metode Apung Pemeriksaan Kecacingan pada Anak Sekolah Dasar. Journal.
Natadisastra, Djaenudin dan Ridad Agoes. 2009. Parasitologi
Kedokteran Ditinjau dari Organ Tubuh yang Diserang.
Jakarta : EGC.
Paniker, CK Jayaram, Sougata Ghosh. 2013. Paniker’s Textbookof Medical Parasitology. Nepal : Jaypee Brother
Medical Publishers
Rahayu, Nita dan Muttaqien Ramdani. 2013.
“Risk factors of helminthiasis on Tebing Tinggi Elementary School students in
Balangan district, South Kalimantan”. Jurnal
Buski Jurnal Epidemiologi dan Penyakit Bersumber Binatang. Volume 4 (3) :
150-154.
Sehgal, Rakesh. 2003. Practicals and Viva in Medical Parasitology. New Delhi : Elsevier.







0 komentar:
Posting Komentar