BTemplates.com

Selasa, 06 September 2016

LAPORAN PRAKTIKUM PEMERIKSAAN TINJA DENGAN METODE KUALITATIF APUNG DAN METODE HARADA MORI

PEMERIKSAAN TINJA DENGAN METODE KUALITATIF APUNG DAN METODE HARADA MORI






Disusun Oleh :
Annisa Fildzah Defanty
I1A015001


LAPORAN PRAKTIKUM PARASITOLOGI



KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI, DAN PENDIDIKAN TINGGI
FAKULTAS ILMU-ILMU KESEHATAN
JURUSAN KESEHATAN MASYARAKAT
UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
PURWOKERTO
2016

BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Cacing merupakan salah satu parasit yang menghinggapi manusia. Penyakit infeksi yang disebabkan oleh cacing masih tetap ada dan masih tinggi prevalensinya, terutama di daerah yang beriklim tropis seperti Indonesia. Hal ini merupakan masalah kesehatan masyarakat yang masih perlu ditangani. Penyakit infeksi yang disebabkan cacing itu dapat di karenakan di daerah tropis khususnya Indonesia berada dalam posisi geografis dengan temperatur serta kelembaban yang cocok untuk berkembangnya cacing dengan baik (Kadarsan, 2005).
Dalam identifikasi infeksinya perlu adanya pemeriksaan, baik dalam keadaan cacing yang masih hidup ataupun yang telah dipulas. Cacing yang akan diperiksa tergantung dari jenis parasitnya. Untuk cacing atau protozoa usus akan dilakukan pemeriksaan melalui feses atau tinja (Kadarsan, 2005).
Pemeriksaan feses dimaksudkan untuk mengetahui ada tidaknya telur cacing ataupun larva yang infektif. Pemeriksaan feses ini juga di maksudkan untuk mendiagnosa tingkat infeksi cacing parasit usus pada orang yang di periksa fesesnya. Prinsip dasar untuk diagnosis infeksi parasit adalah riwayat yang cermat dari pasien. Teknik diagnostik merupakan salah satu aspek yang penting untuk mengetahui adanya infeksi penyakit cacing, yang dapat ditegakkan dengan cara melacak dan mengenal stadium parasit yang ditemukan. Sebagian besar infeksi dengan parasit berlangsung tanpa gejala atau menimbulkan gejala ringan. Oleh sebab itu pemeriksaan laboratorium sangat dibutuhkan karena diagnosis yang hanya berdasarkan pada gejala klinik kurang dapat dipastikan (Gandahusada, Pribadi dan Herry, 2000).
Pemeriksaan telur cacing dari tinja apat dilakukan untuk mendapatkan hasil kualitatif dan kuantitatif (disebut sebagai cara kualitatif dan cara kuantitatif). Kualitatif dapat dilakukan dengan beberapa cara tergantung pada keperluannya, yaitu pemeriksaan secara natif (direct slide), pemeriksaan dengan metode apung (flotation methode), modifikasi metode merthiolat iodine formaldehyde (MIF), metode selotip (cellotape methode), metode konsentrasi, teknik sediaan tebal (cellophane covered thick smear technic), teknik kato, dan metode sedimentasi formol ether (Ritchie) (Natadisastra, 2009).
Kuantitatif dikenal 2 metode pemeriksaan, yaitu metode stoll dan metode kato katz. Pemeriksaan larva dilakukan dengan dua cara yaitu metode pembiakan larva menurut Baermann dan modifikasi Harada Mori. Preparat permanen tergantung yang diperiksa apakah trematoda dan cestoidea, nematoda atau telur, memiliki cara yang berbeda (Natadisastra, 2009) .
B.     Tujuan
1.   Mengetahui pemeriksaan feses dengan metode apung (dengan dan tanpa disentrifugasi) serta metode Harada Mori.
2.      Mengetahui adanya telur dan larva cacing parasit pada feses yang diperiksa.
3.    Menentukan dan mengidentifikasi larva cacing pada feses yang diperiksa dengan metode Harada Mori.



BAB II
METODE
A.    Alat dan Bahan
Metode Apung Tanpa Disentrifugasi


·            Object glass
·            Cover glass
·            Tabung reaksi
·            Rak tabung
·            Jarum ose
·            Lidi
·       Penyaring teh
·           Beaker glass
·           Mikroskop
·           10 gr feses
·           200 ml NaCl jenuh (33%)



Metode Apung Dengan Disentrifugasi


·            Object glass
·            Cover glass
·            Penyaring teh
·            Tabung reaksi
·            Beaker glass
·            Lidi
·            Jarum ose
·            Mikroskop
·            Tabung sentrifugasi
·            Sentrifugator
·            Feses
·            Larutan NaCl jenuh (33%)


Metode Modifikasi Harada Mori


·           Kantung plastik ukuran 30x200 mm
·           Kertas saring ukuran 3x15 cm
·           Lidi
·           Akuades
·           Beaker glass
·           Pipet
·           Object glass
·           Cover glass
·           Mikroskop
·           Gunting




B.     Cara Kerja
Metode Apung Tanpa Disentrifugasi
1.      10 gr feses dicampur dengan 200 mL NaCl jenuh (33%) kemudian aduk hingga larut.
2.      Lalu saring larutan dengan penyaring teh.
3.      Tuangkan larutan ke dalam tabung reaksi sampai penuh (cembung), tetapi jangan sampai tumpah.
4.      Diamkan 5-10 menit, lalu tempelkan cover glass pada sisi cembung larutan.
5.      Tempelkan cover glass ke object glass.
6.      Kemudian amati di mikroskop.

Metode Apung Dengan Disentrifugasi
1.    Campuran feses dan NCl jenuh disaring dengan penyaring teh dan dituangkan ke dalam tabung disentrifugasi.
2.   Tabung tersebut diputar pada alat sentrifugasi selama 5 menit dengan putaran 10x/per menit.
3.      Ambil larutan bagian permukaan dengan jarum ose dan taruh pada object glass, lalu tutup dengan cover glass.
4.      Amati di bawah mikroskop.


Metode Harada Mori
1.     Isi plastik dengan akuades 5 mL.
2.   Oleskan feses pada kertas saring sampai mengisi 1/3 bagian tengahnya dengan lidi bamboo, kemudian lipat kertas saring membujur.
3.  Masukkan kertas saring ke dalam plastik dengan ujung kertas menyentuh permukaan akuades.
4.      Tulis nama penderita, tanggal, dan kelompok
5.      Jepit dan gantungkan plastik dan simpan pada suhu kamar selama 7 hari.
6.      Gunting ujung plastik sampel.
7.      Tuang air ke beaker glass.
8.      Ambil 3 tetes air dengan pipet dan taruh di object glass, lalu tutup dengan cover glass.
9.      Amati dengan mikroskop.






   
BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN
A.    Hasil
1.      Pada pemeriksaan feses ini, sebelumnya telah diambil sampel feses dari anak kelas 2 SD Negeri 2 Karangwangkal, Purwokerto Utara, Banyumas dengan data tertera di bawah ini :
Nama          : Aufan Setiawan
Umur           : 8 tahun
Alamat        : Karangwangkal RT 06 RW 02
Metode
Hasil Pengamatan
Nama Cacing
Telur (+/-)
Metode Apung tanpa Disentrifugasi
Ascaris lumbricoides
+
(Gambar terlampir)
Trichuris trichiura
-
Cacing tambang
-
Strongyloides stercoralis
-
Modifikasi Harada Mori
Trichuris trichiura
-
Cacing tambang
-
Strongyloides stercoralis
-




2.      Pada pemeriksaan feses ini, sebelumnya telah diambil sampel feses dari anak kelas 2 SD Negeri 2 Karangwangkal, Purwokerto Utara, Banyumas dengan data tertera di bawah ini :
Nama          : Cantika Bunga Kusuma Wardani
Umur           : 8,5 tahun
Alamat        : Jl. Djaelani RT 02/03
Metode
Hasil Pengamatan
Nama Cacing
Telur (+/-)
Metode Apung dengan Disentrifugasi
Ascaris lumbricoides
-
Trichuris trichiura
-
Cacing tambang
-
Strongyloides stercoralis
-
Metode Apung tanpa Disentrifugasi
Ascaris lumbricoides
-
Trichuris trichiura
-
Cacing tambang
-
Strongyloides stercoralis
-
Modifikasi Harada Mori
Trichuris trichiura
-
Cacing tambang
-
Strongyloides stercoralis
-




3.      Pada pemeriksaan feses ini, sebelumnya telah diambil sampel feses dari anak kelas 2 SD Negeri 2 Karangwangkal, Purwokerto Utara, Banyumas dengan data tertera di bawah ini :
Nama          : Muhammad Nur Fawuza
Umur           : 9 tahun
Alamat        : Jl. Djaelani Karangwangkal
Metode
Hasil Pengamatan
Nama Cacing
Telur (+/-)
Metode Apung dengan Disentrifugasi
Ascaris lumbricoides
-
Trichuris trichiura
-
Cacing tambang
-
Strongyloides stercoralis
-
Metode Apung tanpa Disentrifugasi
Ascaris lumbricoides
-
Trichuris trichiura
-
Cacing tambang
-
Strongyloides stercoralis
-
Modifikasi Harada Mori
Trichuris trichiura
-
Cacing tambang
-
Strongyloides stercoralis
-




B.     Pembahasan
Metode yang digunakan dalam pemeriksaan tinja adalah metode apung dan metode harada mori. Prinsip kerja metode apung berdasarkan berat jenis telur-telur yang lebih ringan daripada berat jenis larutan yang digunakan sehingga telur terapung dipermukaan, dan juga untuk memisahkan partikel-partikel yang besar yang terdapat dalam tinja. Pemeriksaan metode apung menggunakan larutan garam jenuh direkomendasikan untuk pendeteksian telur Ancylostoma duodenale dan Necator americanus (metode terbaik), Ascaris lumbricoides, Hymenolepis nana, Taenia spp., dan Trichuris trichiura. Metode apung tidak sesuai digunakan untuk mendeteksi trematoda dan Schistosoma spp (Maharani, 2011).
Metode harada mori adalah uji yang digunakan untuk mendeteksi infeksi cacing tambang, Strongyloides stercoralis, Trichostrongylus spp. Prinsip kerja metode harada mori adalah dengan mengoleskan feses pada sepertiga bagian dalam kertas saringan kemudian dimasukkan kedalam tabung kerucut sentrifugal yang berisi air sampai menyentuh ujung kertas saringan. Tabung kerucut sentrifugal disimpan pada suhu kamar selama waktu perkembangan larva dan jatuh dalam air pada 7 sampai 10 hari (Paniker, 2013).
Kelebihan metode apung dengan sentrifugasi adalah dapat digunakan untuk infeksi ringan dan berat, kotoran feses yang melekat pada telur dapat terlepas dengan adanya proses sentrifugasi sehingga dapat terlihat jelas. Sedangkan kekurangan metode apung dengan sentrifugasi adalah membutuhkan waktu yang lama dan membutuhkan ketelitian tinggi agar telur di permukaan larutan tidak turun lagi.
Kelebihan metode apung tanpa sentrifugasi adalah dapat digunakan untuk infeksi ringan dan berat, telur dapat terlihat dengan jelas. Sedangkan kekurangan metode apung tanpa sentrifugasi adalah menggunakan banyak feses, membutuhkan waktu yang lama, dan membutuhkaan ketelitian tinggi agar telur di permukaan larutan tidak turun lagi.
Kelebihan metode harada mori adalah memiliki sifat sensitive, sederhana, ekonomis, dan mudah dalam melakukannya (Shahid, 2010). Sedangkan kekurangannya adalah  larva yang hidup dapat menyebabkan pathogen, larva dapat menyebabkan infeksi sehingga harus dilakukan dengan hati-hati (Sehgal, 2003).
Pada pemeriksaan feses ini, kemungkinan yang dapat ditemukan adalah telur Ascaris lumbricoides, telur Trichiuris trichiura, telur cacing tambang, dan larva rhabditiform Strongyloides stercoralis serta dapat juga ditemukan cacing dewasa.
Dilihat dari tabel pemeriksaan ketiga sampel, ada satu sampel yang menunjukkan hasil positif, yaitu sampel pemeriksaan feses atas nama Aufan. Diduga telur cacing yang ditemukan merupakan telur cacing Ascaris Lumbricoides. Terjadi perbedaan hasil antara metode apung dengan menggunakan sentrifugasi dan tanpa sentrifugasi. Pada metode apung dengan sentrifugasi kemungkinan telur menempel pada object glass lebih besar dibandingkan dengan metode apung tanpa sentrifugasi.
Berdasarkan kuesioner yang telah dipertanyakan, anak dengan hasil pemeriksaannya negatif mempunyai pola hidup yang sudah baik karena perhatian orang tua yang juga baik. Sedangkan anak dengan hasil pemeriksaan positif kemungkinan mempunyai pola hidup yang kurang baik.
Hasil negative  pada metode Harada Mori yang dilaksanakan dapat disebabkan oleh kesalahan dalam melakukan cara kerja, diduga kertas saringan tidak menempel pada air sehingga larva tidak turun dan tidak dapat ditemukan menggunakan mikroskop. Harada Mori merupakan metode yang paling efektif untuk mendeteksi cacing tambang. Terbukti bahwa metode Harada Mori memiliki ketelitian lebih dibandingkan dengan metode pemeriksaan tinja yang lain dalam mendeteksi cacing tambang. Jika dilakukan dengan benar, metode ini sensitif, sederhana, ekonomis dan mudah dilakukan (Shahid, 2010).

Penyakit parasit pencernaan umumnya lebih banyak terjadi pada anak-anak usia sekolah dasar. Pemeriksaan sampel menggunakan metode pemeriksaan langsung dengan mikroskop untuk mengetahui sampel yang positif mengandung telur cacing. Infeksi cacing pencernaan khususnya golongan nematoda dan cestoda merupakan masalah kesehatan yang memerlukan penanganan serius, terutama di daerah tropis karena prevalensi yang cukup tinggi. Berdasarkan media penularannya cacing pencernaan terbagi 2 golongan, yaitu cacing Soil Transmitted Helminth (STH) yang media penularannya melalui tanah dan non STH yang media penularannya tidak melalui tanah. Angka prevalensi dan intensitas infeksi biasanya paling tinggi pada anak antara usia 3 dan 8 tahun (Hairani dan Annida, 2012).
Soil Transmitted Helminths (STH) adalah cacing golongan Nematoda yang penularannya melalui perantara tanah. STH yang paling banyak menginfeksi manusia adalah cacing gelang (Aszaris lumbricoides), cacing cambuk (Trichuris trichiura) dan cacing tambang (Necator americanus dan Ancylostoma duodenale) (Handayani et al, 2015).
Infeksi STHs masih menjadi masalah kesehatan di seluruh dunia. Sekitar lebih dari satu milyar orang telah terinfeksi STHs. Infeksi STHs banyak ditemukan pada masyarakat yang bertempat tinggal di negara berkembang khususnya negara tropik dan subtropik. Tempat yang sangat cocok untuk berkembangnya STHs adalah di tanah yang liat, lembab, dan teduh, terutama di daerah pertanian dan perkebunan, seperti di Indonesia (Handayani et al, 2015).
Cacing tidak hanya menyerang kelompok rawan seperti usia anak-anak sekolah tetapi dapat menyerang semua kelompok umur dan jenis kelamin. Efek yang paling serius ditemukan pada anak usia sekolah, karena dapat mengakibatkan menurunnya daya tahan tubuh dan terhambatnya tumbuh kembang anak. 2-3 Cacing mengambil sari makanan yang penting bagi tubuh, antara lain karbohidrat dan zat besi. Diare, badan kurus, kekurangan cairan (dehidrasi), anemia serta badan lemas, lesu, lubang anus terasa gatal dan mata sering berkedip-kedip merupakan gejala awal yang ditimbulkan oleh adanya infeksi cacing. Kejang-kejang pada seluruh anggota gerak, perut membuncit dan keras akibat adanya timbunan gas (kembung), merupakan tanda bahwa racun telah menyebar ke seluruh tubuh. Cacing T. Trichiura dapat menimbulkan pendarahan kecil yang dapat mengakibatkan anemia. Jika ditinjau kerugian dari segi ekonomi, satu ekor cacing A. lumbricoides dapat menyebabkan kehilangan karbohidrat sebanyak 0,14 gr/hari (Hairani dan Annida, 2012).
Transmisi A. lumbricoides dan T. trichiura dapat terjadi secara langsung karena tertelan larva infektif yang melekat di jari tangan pada waktu anak menghisap jari atau tidak mencuci tangan sebelum makan. Kejadian ini sering terjadi terutama pada anak yang sering bermain dan kontak dengan tanah yang tercemar telur cacing. Secara tidak langsung transmisi juga dapat terjadi bila tinja manusia yang mengandung telur infektif terdapat di tanah, melekat pada badan/kaki lalat dan kecoa yang kemudian serangga tersebut mencemari makanan yang tidak tertutup (Rahayu dan Ramdani, 2013)
Infeksi dengan A. lumbricoides, T. trichiura dan hookworm sering ditemukan pada anak usia 5–10 tahun. Gangguan absorbsi zat gizi dan anemia yang disebabkan oleh cacing tersebut berdampak terhadap gangguan mental, terhambatnya pertumbuhan fisik, gangguan kognitif dan kemunduran intelektual pada anak-anak, sehingga menurunkan kualitas sumber daya manusia. Cacing A. lumbricoides bersifat kosmopolit, terutama ditemukan pada daerah panas dan lembab. Daerah penyebarannya sama dengan T. tichiura prevalensinya tinggi pada keadaan sosial ekonomi yang rendah. Biasanya askariasis menyebar pada keadaan lingkungan yang buruk, banyak lalat yang berperan sebagai vektor, tidak memperhatikan kebersihan makan/minuman. Bermain di tanah, tidak cuci tangan sebelum makan, BAB di sembarang tempat, bahkan pada daerah tertentu yang memanfaatkan tinja sebagai pupuk tanaman merupakan faktor risiko askariasis. Penanggulangan terhadap permasalahan gizi yang disebabkan oleh kecacingan adalah melakukan pengobatan pada sumber infeksi, selain memperbaiki lingkungan, mengurangi populasi lalat/kecoa, menjaga kebersihan makan/minuman, pemakaian jamban keluarga, anak-anak dilarang bermain di tanah, menggunting kuku secara teratur, serta membiasakan mencuci tangan sebelum makan  (Rahayu dan Ramdani, 2013).
Siklus hidup cacing ini yang sangat cocok di daerah beriklim tropis menyebabkan penularannya menjadi sangat baik. Cacing betina dapat bertelur sampai 200.000 butir dalam sehari1, jumlah ini jauh lebih besar dibandingkan spesies cacing lainnya, sehingga kesempatan untuk menginfeksi manusia juga lebih tinggi. Selain itu telur Ascaris dapat bertahan hingga lebih dari 100 hari. Telur cacing ini dapat tertelan oleh manusia melalui makanan yang terkontaminasi oleh telur cacing atau tangan yang tidak dicuci sebelum makan. Anak-anak sekolah pada umumnya suka membeli jajanan yang tidak disajikan secara higienis (tidak ditutup), yang kemungkinan besar telah terkontaminasi telur cacing. Keadaan ini semakin diperparah dengan kondisi lingkungan yang tidak baik, kurangnya kesadaran untuk mencuci tangan sebelum makan, masyarakat perkampungan yang masih buang air besar di sembarang tempat serta adanya pemakaian tinja sebagai pupuk (Hairani dan Annida, 2012).
Cara penularan cacing ini dapat terjadi pada manusia melalui penetrasi larva filariform yang terdapat di tanah ke dalam kulit, kemudian larva menuju saluran pencernaan melalui aliran darah. Anak-anak yang sering bermain di tanah tanpa mengenakan alas kaki sangat rentan terinfeksi cacing ini (Hairani dan Annida, 2012).
Cacing E. vermularis merupakan golongan non STH. Berbeda dengan cacing golongan STH, cacing ini dapat menular melalui udara, telurnya dapat melekat pada pakaian, sprei, bantal, dan dapat diterbangkan oleh angin sehingga dalam satu keluarga yang tinggal serumah dapat terinfeksi. Cacing ini akan bergerak menuju anus untuk meletakkan telurnya, hal ini menyebabkan rasa gatal pada anus. Anak-anak yang merasa gatal sering menggaruk anusnya dengan tangan, sehingga telur-telur cacing yang ada di anus akan menempel di tangan, apabila anak ini tidak segera mencuci tangan dan memegang benda-benda di rumah yang juga digunakan oleh orang lain, maka akan terjadi penularan cacing ini pada orang lain. Kemungkinan tingkat kesadaran keluarga anak-anak tersebut dalam menjaga kebersihan rumah sangat rendah, sehingga cacing ini dapat berkembang biak dan menular dengan  mudah (Hairani dan Annida, 2012).
Penyebaran cacing H. nana kosmopolit, lebih banyak terdapat di daerah dengan iklim panas. Cacing ini merupakan satu-satunya cacing pita manusia yang tidak memerlukan hospes perantara. Selain manusia, tikus juga bisa menjadi hospesnya. Infeksi kebanyakan terjadi secara langsung dari tangan ke mulut. Kontaminasi dengan tinja tikus perlu mendapat perhatian. Lingkungan yang banyak terdapat tikus dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya infeksi, karena tinja tikus yang mengandung telur cacing dapat mengkontaminasi makanan manusia (Hairani dan Annida, 2012).




DAFTAR PUSTAKA
Gandahusada, S. W. Pribadi dan D. I. Herry. 2000. Parasitologi Kedokteran. Fakultas Kedokteran UI : Jakarta.
Hairani, Budi dan Annida. 2012. “Intestinal parasite incidence on elementary school students in town and village at Tanahs Bumbu District”. Jurnal Buski Jurnal Epidemiologi dan Penyakit Bersumber Binatang. Volume 4 (2) : 102-108.
Handayani, Dwi, Muhaimin Ramdja dan Indah Fitri Nurdianthi. 2015. “Hubungan Infeksi Soil Transmitted Helminths (STH) dengan Prestasi Belajar pada Siswa SDN 169 di Kelurahan Gandus Kecamatan Gandus Kota Palembang”. Majalah Kedokteran Sriwijaya. Volume 47 (2) : 91-96.
Handayani, Dwi, Muhaimin Ramdja dan Indah Fitri Nurdianthi. 2015. “The Association of Nail and Vended Food Hygiene with Soil Transmitted Helminths Infection in Students of SDN 169 Kelurahan Gandus Kecamatan Gandus Palembang”. Bandung International Scientific Meeting on Parasitology & Tropical Diseases.  Volume 9 : 77-83.
Kadarsan, S. 2005. Binatang Parasit. Bogor: Lembaga Biologi Nasional-LIPI.
Maharani, Anggitha Putri, Liena Sofiana. 2011. Validitas Metode Apung Pemeriksaan Kecacingan pada Anak Sekolah Dasar. Journal.
Natadisastra, Djaenudin dan Ridad Agoes. 2009. Parasitologi Kedokteran Ditinjau dari Organ Tubuh yang Diserang. Jakarta : EGC.
Paniker, CK Jayaram, Sougata Ghosh. 2013. Paniker’s Textbookof Medical Parasitology. Nepal : Jaypee Brother Medical Publishers
Rahayu, Nita dan Muttaqien Ramdani. 2013. “Risk factors of helminthiasis on Tebing Tinggi Elementary School students in Balangan district, South Kalimantan”. Jurnal Buski Jurnal Epidemiologi dan Penyakit Bersumber Binatang. Volume 4 (3) : 150-154.
Sehgal, Rakesh. 2003. Practicals and Viva in Medical Parasitology. New Delhi : Elsevier.

0 komentar:

Posting Komentar